Aku bagaikan Brosur

Sudah lama rasanya aku nggak kumpul dengan teman-teman. Selepas lulus SMK, teman-temanku sudah banyak memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Mulai dari bekerja, kuliah, bekerja sambil kuliah. Alhasil, kita nggak pernah bertemu untuk kumpul bersama lagi. Belakangan ini saya juga sudah jarang main bersama teman, karena sudah memiliki kegiatan baru yaitu kuliah. Liburku sekarang hanya hari minggu saja. Hari minggu pun kadang dipakai untuk kelas pengganti. Hanya hari minggu waktu kosong, kadang juga ku isi dengan lembur di kantor stanby training untuk menambahkan pemasukan. Meskipun tidak ada harapan untuk lembur di hari sabtu, karena setiap hari sabtu sudah di schedulekan untuk kuliah. Makanya setiap hari sabtu selalu ku usahakan masuk, karena masuk kuliah hanya hari sabtu dan malam selasa, sayang sekali kalau meninggalkan kuliah di hari sabtu. Kalau dihitung-hitung sebulan saya hanya masuk 4x saja. Kalau tidak kepepet banget, tidak akan aku bolos. Karena aku menghargai uang yang kudapatkan untuk biaya kuliah tersebut.

Setiap sabtu setelah pulang kuliah sekitar jam 1 siang, aku selalu langsung pulang ke rumah. Karena waktu ku sangat berharga untuk ku habiskan buat sesuatu yang nggak ada nilai tambahnya. Tapi sabtu kemarin berbeda, teman kuliah ku mengajak bermain ke MCD dekat kampus. Kuingin menolak, tetapi kuingin sekali kumpul, karena sudah jarang sekali aku bermain dan aku ingin beli Mc Cafe di MCD ehehehe. Tapi disisi lain aku sudah schedulekan untuk mengerjakan tugas besar yang akan dikumpulkan saat UAS nanti. Kadang, hal-hal kecil seperti itu juga butuh pertimbangan. Baiklah, ku iyakan ajakan teman-teman kuliahku. Ini adalah pertama kalinya ku kumpul bermain.

Sebelumnya teman-teman kuliahku memang sering sekali kumpul, apalagi ketika malam hari setelah selesai ngampus. Tapi aku selalu tidak ikut. Karena memang komitmenku untuk tidak main larut malam. Sebenarnya aku juga sudah jarang sekali keluar malam hari, kalau memang tidak terpaksa.

Waktu kumpul di MCD, teman-temanku berbagi pengalaman tentang informasi kesehatan mental. Memang di Indonesia, sampai saat ini banyak yang belum melek dengan informasi kesehatan mental. Dan Indonesia belum menganggap penting tentang penyakit mental. Kebanyakan individu hanya mengetahui bahwa penyakit itu hanya yang keliatan saja semisal flu, demam dan lain sebagainya, padahal ada juga penyakit mental yang sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Sudah hampir satu semester aku belajar ilmu psikologi, dan semakin kesini aku jadi semakin berhati-hati dalam berbicara maupun bersikap karena sedikitpun salah dalam bertindak, bisa mencelakakan hati orang lain, tanpa kita sadari.

Beberapa teman ku sudah pernah menggunakan fasilitas konseling di kampus. Mereka berbagi pengalaman kepadaku, bahwa kadang kita nggak selaw dalam menyikapi apa yang dilakukan seseorang terhadap kita. Jadi dibawah ini ada suatu cerita yang bisa kita ambil kesimpulannya:

Aku disuruh untuk menyebarkan beberapa brosur dilingkungan sekelilingku. Kemudian, banyak berbagai perlakuan yang orang lain berikan terhadap brosur tersebut. Beberapa orang ada yang membuangnya begitu saja. Beberapa orang ada yang menerima nya karena terbantu oleh informasi pada brosur tersebut. Beberapa orang ada yang menginjaknya. Beberapa orang ada yang merobeknya. Beberapa orang ada yang memanfaatkannya untuk kebutuhan membungkus makanan. Dengan segala perlakuan orang lain terhadap brosur itu, brosur itu akan tetap menjadi brosur. Tidak akan berubah. Dari situ kita bisa mengambil kesimpulan bahwa diibaratkan brosur tersebut adalah sosok aku. Mau bagaimanapun orang lain bersikap atau memperlakukan aku, aku harus tetap menjadi aku.

Karena terkadang hati kita sensitif, mudah tersinggung oleh omongan orang lain, mudah marah saat orang lain memperlakukan kita seenaknya, kadang hati kita menjadi galau, menjadi kesepian dan minder, tidak ingin bergaul lagi. Padahal mau bagaimanapun orang lain bersikap, aku ya tetap menjadi aku. Yang harus dilakukan adalah intropeksi diri dan terus berpikir positif kepada orang lain.

Kamu juga boleh loh mengatur orang-orang disekeliling kamu masuk ke circle berapa. Misalnya circle utama kamu adalah yang paling dekat sama kamu yang selalu ada yaitu orang tuamu, sahabat dekatmu, atau bahkan pacarmu. Misalnya circle kedua diisi dengan orang-orang yang biasa saja bagimu, misal teman kampus yang beda jurusan atau beda angkatan, dia bisa masuk di circle keduamu. Yang artinya, dia tidak terlalu banyak berperan dalam kehidupanmu, tapi jugaa sedikit banyak berinteraksi denganmu. Hal itu wajar saja, tidak semua orang bisa menjadi teman dekatmu, pasti kamu memiliki orang-orang tertentu yang kamu jadikan teman dekat, ntah karena visi dan misimu sama dengannya atau hal kesukaan yang sama—

Sumber gambar: klik disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *