Gaya Hidup

Aku Terlalu Baper

Waktu itu aku sedang silatuhrahmi berkunjung ke Rumah saudaraku namanya Tika. Kejadiannya sudah cukup lama sih. Saat itu aku pamit pulang dan melihat ada warung di dekat rumah Tika. Diwarung tersebut terlihat ada kulkas yang pintunya kaca, yang kita bisa lihat isi didalamnya. Tak sengaja aku melihat teh botol, aku suka sekali teh botol dan saat itu aku haus. Waktu itu aku pulang dari rumah Tika bersama Ibuku, naik kendaraan sepeda motor. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan menghampiri warung itu. Ibuku menunggu di motor yang terparkir cukup jauh dari warung itu.

Aku menghampiri warung itu untuk membeli teh botol. Aku menyuarakan suara “Beli..beli”. Kemudian ada seorang nenek-nenek yang sudah lanjut usia keluar dari dalam warung tersebut. Setelah itu, menjawab seruanku, “Beli apa!?” nadanya jutek banget. Aku takut, rasanya pengen bilang “Gak jadi beli.” Tapi kasihan juga kalau bilang gak jadi beli. Akhirnya aku bilang “Teh botol berapa ya?”, nenek itu jawab dengan nada jutek lagi. Karena teh botolnya pakai botol kaca gitu, jadi aku harus memindahkannya ke plastik untuk bisa aku bawa pulang, kemudian si nenek bilang “Tuang aja sendiri, nih plastiknya!” tetap jutek dan galak. Setelah sudah selesai, aku menanyakan “Sedotannya dimana ya?”, nenek itu jawab, “itu disitu samping kulkas emang nggak liat?.”

Waktu itu aku kesel banget tapi aku juga nggak bisa marah-marah di depan nenek-nenek itu, aku kan mau beli, kok malah dimarahi, dijutekin, gak dilayani. Aku kan nggak mencuri, nggak membuat kesalahan, aku juga nggak berhutang, tapi kenapa aku diperlakukan gitu? Aku masih nggak habis pikir. Kenapa dia seperti itu?

Waktu itu aku cerita dengan temanku kejadian yang ku alami, kemudian dia memberikan tanggapan yang gak kepikiran denganku. Temanku bilang kurang lebih begini,

“Sabar ya, tidak perlu marah-marah, kamu taukan beliau nenek-nenek? Beliau itu sikap, sifat, perasaannya sudah berbeda dengan kita, dia sudah menginjak masa tua, yang perasaannya sangat rentan, fungsi otak dan mentalnya sudah berkurang jadi kita harus mengertinya. Saat ia tua, beliau akan kembali menjadi seperti anak kecil.”

Seketika aku menghela nafas, iya benar juga ya. Ternyata akunya saja yang terlalu baper. Kenapa aku nggak kepikiran kesitu. Memang kalau lagi kesal, hanya pemikiran yang negatif saja yang selalu menghampiri.

Seperti yang kupelajari di mata kuliah Psikologi Dasar, bahwa fase-fase perkembangan manusia itu ada empat masa yaitu: masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa dan masa tua.

Nah, pada masa tua ini manusia akan merasakan kesepian, kesendirian, kemunduran fungsi otak, mental, menjadi pelupa dan kurang konsentrasi.

Kesepian disini bisa karena ditinggal oleh suami atau sepasang kekasihnya, dan juga ditinggalkan anak-anaknya yang sudah memiliki kesibukan masing-masing.

Melihat hal tersebut, kita akan sama-sama mengalami merawat kedua orangtua kita ketika beliau melewati fase perkembangan pada masa tua. Layaknya merawat anak-anak, kita harus memahami apa yang beliau rasakan nanti ketika berada pada masa tua. Semoga kita dan kedua orangtua kita semua diberikan kesehatan dan panjang umur, agar kita dapat merawatnya dengan baik ketika masa tua itu tiba. Aamiin.

Sumber foto: klik disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *