Gaya Hidup

Body Shaming

“kamu kurus banget, kamu cacingan ya?”

“kulit kamu hitam banget”

“Kamu kurang gizi ya?”

“Kamu gendut banget”

komentar-komentar di atas yang pernah saya rasakan saat saya masih kecil, saat saya sedang menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Khususnya di lingkungan sekitar saya, seperti tetangga dirumah, sekolah ataupun keluarga. Fenomena ini dinamakan body shaming.

Apa itu body shaming?

Body shaming mungkin sudah banyak kita dengar. Sebelum mengetahui apa itu body shaming, disini saya akan bantu menjelaskan arti perkata. Body diambil dari bahasa inggris artinya tubuh, tubuh yang dimaksud disini yaitu tubuh yang kita miliki dan yang orang lain miliki. Kemudian Shaming diambil dari bahasa inggris artinya mempermalukan, mempermalukan yang dimaksud dengan cara mengomentari atau mengkritik. Jadi body shaming bisa disimpulkan mempermalukan atau mengomentari tubuh sendiri atau orang lain dengan cara yang negatif.

Sesuai dengan kesimpulan yang sudah dijabarkan, body shaming pelakunya bukan hanya orang lain yang mengomentari fisik atau tubuh kita. Tapi tanpa kita sadari terkadang diri kita sendiripun sering berkomentar “negatif” ke tubuh kita. Nah itu juga termasuk body shaming lho.

Apa dampak negatif dari body shaming?

Mungkin beberapa individu di sekitar kita ada yang tidak terlalu perduli atau meremehkan dampak negatif dari body shaming. Dampak negatif dari body shaming yaitu membuat orang lain menjadi tidak percaya diri, hal tersebut pada umumnya membuat korban body shaming ini menarik diri dari lingkungan disekitarnya untuk menenangkan diri. Bukan hanya itu saja, korban tersebut menjadi menutup diri dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Bahkan korban bisa sampai melakukan bunuh diri karena mengalami gangguan mental akibat dari body shaming sendiri. Tidak bisa diremehkan jika sudah sampai pada dampak ingin bunuh diri.

Contoh kasus

Kasus ini berkisah dari diri saya sendiri. Waktu saya sedang menempuh pendidikan Sekolah Dasar, saya mendapati perlakuan body shaming tersebut. Perlu kalian ketahui, dulu saya ini kurus sekali dan kulit saya hitam. Kalian pasti membayangkan bagaimana tubuh saya saat itu. Rentang umur saya saat itu 6 – 11 tahun. Saat itu saya sedang main dirumah tetangga, kemudian tetangga saya tersebut mengomentari negatif tubuh saya. Katanya “Febri kamu kurus banget sih, kamu cacingan kali kaya kurang gizi”. Tidak hanya itu, pernah juga ia mengomentari kulit wajah dan tangan saya yang hitam. Komentar itu terus menerus berulang. Sampai saya berada di titik “malu” dan murung bahkan menangis. Dampak negatif dari body shaming memang nyata saya rasakan dulu. Saya mengurung diri di dalam kamar, saya menangis, saya malu, sampai saya kurangi main saya di luar sana. Saya ingat sekali, dulu saking saya malu dan tidak tau harus berbuat apa saya pernah memohon sama Allah, supaya saya diberikan tubuh yang gemuk. Dulu saya sampai segitunya, karna memang sudah sangat “malu” dan saya tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Sebenarnya dulu saya tidak pernah terlalu memusingkan itu, karena pada masa sekolah dasar saya lebih fokus kepada belajar, belajar, dan sesekali bermain. Tidak memikirkan cara pandang orang lain terhadap saya. Tapi komentar tersebut dilontarkan terus berulang, sehingga saya memberikan respon “malu”.

Memang benar ternyata yang saya rasakan pada saat Sekolah Dasar saya sedang sibuk-sibuknya belajar, hal tersebut di jelaskan dalam pandangan menurut Erik H. Erikson pada delapan tahapan psikososial. Hal tersebut dijelaskan pada tahap ke empat yaitu tahap Usia Sekolah: Kegigihan versus Inverioritas. Tahap ini berlangsung pada usia 6 tahun hingga kurang lebih 11 tahun Yup pada masa Sekolah Dasar, berkolerasi dengan tahap perkembangan psikososial menurut Freud. Umumnya sebagian anak sekolah di usia tersebut sedang sibuk bersekolah, ditahap ini anak banyak belajar tentang keterampilan yang dibutuhkan untuk keberlangsungan ekonomi, keterampilan teknologis yang akan membantu mereka menjadi anak yang produktif dalam budaya mereka. Pelajaran penting pada anak di tahap ini adalah kesenangan menyelesaikan tugas lewat pelatihan yang terus-menerus dan memeliahara kerajinan. Dan ini memang yang saya rasakan.

Kemudian setelah memasuki SMP saya mengalami pubertas, hal itu membuat tubuh saya menjadi gemuk. Dulu saya pernah berpikir bahwa mungkin saya nggak bisa gemuk, karena memang kurus sekali. Dan mungkin Allah menjawab doaku pada saat itu. Akhirnya aku gemuk. Tapi tetap ada saja yang mengomentari “negatif” tubuh saya. Bahwa saya gemuk, bahwa saya gendut. Dulu saya yang masih anak-anak masihlah bingung menyikapi hal tersebut. Tapi sekarang saya lebih ke yang bodoamat. Toh pembuktian dari pengalaman diri saya sendiri, mau saya kurus atau gemuk saya tetap di komentari “negatif”. Jadi kenapa saya harus perdulikan omongan mereka. Dalam hidup, kita selalu dilontarkan sebuah pilihan, dan itu kita sendiri yang harus memilih. Sekarang saya lebih memilih tidak memedulikan omongan tersebut, toh yang penting saya sehat dan bisa membahagiakan kedua orangtua saya.

“Hidup kita milik kita, susah maupun senang kita juga yang menjalaninya”.

-Excellent

Bagaimana mengatasi body shaming?

  • Belajar untuk mencintai diri sendiri

Ada baiknya kita menumbuhkan mindset untuk menerima dan mencintai diri sendiri. Dengan meluruskan niat berolahraga dan diet untuk kesehatan tubuh kita, bukan untuk dipandang cantik, atau bentuk badan ideal oleh orang lain. Sehingga kita bisa mensyukuri, menerima dan mencintai diri kita sendiri.

  • Ekspresikan apa yang kita rasakan

Kadang kalau kita mendapatkan perlakuan body shaming, kita lebih cenderung mengabaikan, meskipun kita juga merasa sakit hati dan malu. Tapi sebenarnya kita bisa lho memilih untuk mengungkapkan ekspresi yang kita rasakan ketika orang itu mengomentari tubuh kita. Dari hal ini kita tidak hanya melindungi diri kita, tetapi juga memberitahu mereka bahwa body shaming tidaklah baik.

  • Temukan sisi positif dalam diri sendiri

Tuliskan kelebihan-kelebihan yang anda miliki berulang-ulang, sehingga kita bisa menyadari kalau diri kita memiliki kelebihan yang positif dan patut untuk disyukuri.

Semoga bermanfaat.

Sumber referensi:

https://pijarpsikologi.org/body-shaming-dan-cara-mengatasinya/

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/10715/BAB%20III.pdf?sequence=3&isAllowed=y

Sumber foto:

Klik disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *