Gaya Hidup Psikologi

Perfeksionis?

Setiap melakukan sesuatu yang dinilai gagal dalam menjalankannya, yang berakibat selalu mengalami keterpurukan bahkan langsung menyalahkan diri sendiri. Hal kecil yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspetasi awal, selalu dijadikan permasalahan besar. Selalu menginginkan sesuatu sempurna di dalam sebuah rencana, pekerjaan dan lainnya. Selalu mencegah dirinya melakukan kesalahan. Seseorang yang sangat menyukai kerapian dan keteraturan. Tanpa sadar itu semua masuk kedalam Perfeksionis. Ya, itu adalah yang saya alami. Saya merasa diri saya ini adalah seorang yang Perfeksionis.

Sebenarnya, apa itu perfeksionis?

Menurut Jennifer Kromberg, seorang psikolog dan terapis, perfeksionis adalah dorongan yang terus-menerus dalam diri seseorang untuk memiliki segala sesuatu yang berjalan dengan sempurna, misalnya dalam hal akademik dan kehidupan sehari-hari.

Beberapa waktu lalu, saya merasakan puncak dari Perfeksionis itu sendiri. Ada sesuatu hal yang saya harapkan tidak tercapai dengan baik ( tidak sempurna ). Saya tidak henti merasa kecewa dengan diri saya sendiri, dan merasa bodoh. Menyalahkan diri sendiri. Akibatnya saya merasa cemas sepanjang waktu, bahkan bisa sampai seharian. Hal ini membuat kesehatan mental saya tidak baik-baik saja saat itu.

Pada saat itu saya tidak mempunyai solusi apa-apa. Saya hanya menceritakan hal tersebut ke teman terdekat. Agar lebih berkurang beban di dada. Beberapa pendengar memberikan saran yang baik, untuk tidak larut dari kesalahan atau kegagalan. Tetapi menurut saya, jika sedang mengalami hal tersebut, lebih baik diceritakan, lebih baik pula diceritakan oleh orang yang kalian percayai yang sekiranya dapat menolong kalian.

Lanjut, perfeksionis itu tergolong baik atau buruk ya?

Menurut dari pengalaman yang saya rasakan, perfeksionis ini di satu sisi merupakan sesuatu yang baik, karena ketika melakukan apapun, pekerjaan maupun dalam pendidikan dapat menghasilkan kualitas tugas yang sempurna. Kualitas sepurna di dapat dengan usaha dan persiapan yang matang.

Tapi memang, yang sangat menggangu dari Perfeksionis itu sendiri adalah kesehatan mental. Samisal, ketika mengerjakan tugas pelajaran mata kuliah Bimbingan Menulis di kampus saya berekspektasi mendapatkan nilai tinggi, tetapi kenyataannya nilaiku di range tengah-tengah, tidak paling bagus dan tidak buruk. Sehingga seringkali merasa kecewa dan marah pada diri sendiri. Dan yang sering kali saya rasakan adalah dalam lingkungan pertemanan menjadi lebih kaku dan terlalu serius. Bahasa santainya itu nggak “asik”.

Itu yang saya rasakan, tapi lambat laun saya belajar untuk berpikir lebih realistis dalam menjalankan sesuatu hal. Seperti tidak masalah jika tidak mendapatkan nilai A, setelah berusaha sangat keras. Kemudian belajar untuk berpikir dari perspektif orang lain. Tentunya juga percaya sama Allah, bahwa apapun yang terjadi adalah kehendak yang terbaik. ( Alifatf )

Referensi:

https://pijarpsikologi.org/perfeksionis-baik-atau-buruk/

referensi gambar


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *