Gaya Hidup

Aku Maba 2019

Tahun ini aku menjadi maba, tepatnya tanggal 1 September 2019. Setelah drama kurang lebih satu tahun menunda kuliah, akhirnya aku menentukan untuk menjadi maba di tahun ini. Yup, Maba (Mahasiswa Baru).

Proses satu tahun tidaklah sebentar untuk menunda kuliah. Banyak perasaan muncul di hatiku. Bahwa rasanya sayang sekali menunda satu tahun untuk mulai kuliah. Tapi, semua itu atau sesuatu hal terjadi pasti ada hikmahnya. Satu tahun itu aku manfaatkan untuk memantapkan jurusan apa yang aku akan pilih nanti. Karena setelah baru lulus kemarin masih sangatlah labil untuk melanjutkan kuliah di jurusan apa. Hehehe.

Mungkin teman dekatku tahu bagaimana perjuanganku di tahun lalu untuk meminang PTN. Alasan kenapa aku harus dapetin PTN waktu itu adalah karena permasalahan biaya, karena kalau di PTS biaya bisa sampai puluhan juta per semesternya. Aku harus memutar otak untuk bisa dapet uang puluhan juta itu dari mana. Sedangkan, aku tidak mau jika harus kerja sambil kuliah. Kalau itu ada di antara pilihan, aku tidak akan pernah memilih kerja sambil kuliah. Alasannya kenapa? Pasti berat. kerja sambil kuliah. Fokus terbagi dua. Harus professional. Harus bisa bagi waktu. Harus punya tanggung jawab di dua fokus. Aku tidak akan kerja sambil kuliah.

Setelah perjuangan meminang PTN gagal. Aku lolos sebenarnya di UIN Syarif Hidayatullah tahun lalu. Jurusan BKI. Bimbingan Konseling Islam. Biaya kuliah persemesternya juga murah. Akreditasi jurusannya paling bagus. Favorite kalau di UIN. Jurusannya aku banget. Tapi nggak aku ambil. Kenapa nggak aku ambil? karena ada sesuatu hal yang tidak bisa ku ceritakan disini. Alhamdulillah aku tidak menyesal. Karena pilihan itu aku ambil dengan melibatkan Allah SWT. Alhamdulillah, aku ditawarkan bekerja di tempat magangku dulu. Tempat PKL ku dulu. Alhamdulillah, senang sekali.

Akhirnya aku ambil tawaran yang menarik itu. Terima kasih telah menolongku saat itu dan sampai saat ini Boss. Semoga Allah berikan keberkahan dan sehat selalu.

Sampai detik ini, aku masih bekerja disana. Tepat 1 September 2019 juga saya 1 tahun bekerja. Yeay, akhirnya punya jatah cuti. Wkwkwk.

Merasa beruntung karena Allah berikan orang-orang baik disekitarku. Berkat usahaku mencari tempat PKL yang cocok dan berusaha untuk segercep itu supaya bisa PKL disana dan nggak keduluan orang lain. Karena siapa dulu, dia dapat. Dan akhirnya bisa kenal dengan perusahaan Pak Vavai, yaitu Excellent dan Teamnya. Ternyata benar ya yang diusahakan sungguh-sungguh bakalan menuai kebaikan suatu saat nanti.

Dan saat itu juga aku berpikir untuk bekerja sambil kuliah. Bekerja sambil kuliah adalah pilihan yang dulu tidak mau aku pilih. Mungkin dulu aku egois? aku kekeuh sama pilihanku. Pilihanku adalah kuliah sambil kerja. Tapi aku tidak realistis. Kamu mau kuliah? orang tuamu tidak bisa membiayaimu? lalu kamu kekeuh untuk kuliah, tapi uangnya dari mana? masih di awang-awang. Kalimat “jalanin aja” juga butuh usaha. Mungkin ketika kuliah aku bisa sambil nyambi. Nyari beasiswa. Kerja part time. Disatu sisi aku juga nggak mau ngandelin orangtua. 12 tahun udah dibayarin masa sekarang nyusahin lagi. Tapi nyatanya tidak semudah itu.

Temanku pernah cerita, dia kuliah sambil kerja. Kerjanya serabutan. Ada peluang apa aja, ada kerjaan apa aja, disabet. Giliran lagi nggak ada kerjaan pusing, dan musti bayar kuliah tapi uangnya belum cukup padahal udah jatuh tempo dia sampe bilang “setress”, dan kena denda pula karena lewat dari jatuh tempo. Dan seketika aku mikir. Ternyata tidak semudah bicara aja. Dari situ aku “mikir”, Bekerja sambil kuliah? WHY NOT? Kenapa tidak? realistis aja, kalau sekarang keadaannya memang mengharuskan seperti itu, yang penting kita tetap berusaha. Keputusan ini diambil karena lebih banyak kemaslahatannya. Dengan kerja Aku bisa membagi rejeki kepada orangtua. Aku bisa membayar kuliah sendiri, pakai uangku sendiri. Problematika biaya semesteran di PTS puluhan juta terselesaikan. Dan satu lagi,

Firman Allah yang Maha Agung tentu lebih tepat,

عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Boleh jadi yang kuinginkan itu adalah amat buruk untukku. Sedangkan yang ku tidak sukai adalah sangat baik untukku. Dan aku hanya berusaha dan merencanakan apa yang ku inginkan, tetap semuanya Allah yang menentukan rencana mana yang terbaik dan paling baik untuk hambanya.

Setelah Fix dengan rencanaku bekerja sambil Kuliah. Aku mulai mencari referensi Universitas Swasta di Bekasi. Tentunya di Bekasi, supaya dekat. Tentunya Universitas yang bagus akreditasinya. Nantinya aku bakalan ambil jurusan Ilmu Psikologi. Lho? bukannya sebelumnya di SMK jurusan Teknik Komputer Jaringan? Iya benar. Terus kenapa? Gapapa. Menurutku semuanya punya hak untuk mau melanjutkan study di jurusan apa saja. Karena mereka punya tujuan masing-masing atau target impiannya masing-masing. Yang pasti saya pilih jurusan itu tidak asal. Penuh pertimbangan. Sebenarnya saat jurusan di SMK dulu itu bukanlah pilihan saya. Bukan keinginan saya. Tapi keinginan Ibu saya. Saya yang dulu tahun 2015 masih bingung mau pilih SMK atau SMA. Karena Ibu saya menginginkan saya langsung bekerja saat lulus, Ibu saya menyarankan untuk masuk SMK saja, karena alasan biaya, kalau SMA nantikan kuliah, biaya lagi. Dan terlebih lagi kedua kakak saya tidak kuliah. Untuk ambil pekerjaan juga lumayan sulit kalau lulusan SMA karena belum memiliki pembekalan skill. Saya meng-IYAKAN. Pertimbangannya adalah, jika SMK saya bisa pilih keduanya. Bisa kuliah, bisa juga kalau mau kerja. Dua-duanya bisa-bisa saja. Akhirnya berjuang saat pendaftaran untuk meminang SMK terbaik itu, SMK Favorite, Sekolah model pada masanya. Dan, memang mungkin berkat usaha dan restu orang tua. Saya bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah model itu. Yup, SMK N 1 Kota Bekasi. Bangga? Tentu. Saya tidak pernah menyesal telah mengikuti kata Ibu saya. Sekarang, karena restunya dan doanya aku bisa lulus sekolah langsung bekerja, tanpa sadar aku sudah memenuhi harapannya.

Sekarang, saya punya pilihan sendiri untuk memilih jurusan yang saya yakini dan inginkan. Sekarang saya punya power untuk bisa memilih, saya sudah dewasa. Saya akan mempertanggung jawabkan pilihan saya. Ibu saya membebaskan saya pilih jurusan apa. Apa saja, asal itu pilihanku.

Setelah mencari referensi, aku listing daftar Universitas Swasta yang memiliki Prodi Ilmu Psikologi yang bisa kelas pararel ( Karyawan ). Yang masuk listingku adalah:

  1. Universita Esa Unggul
  2. Universitas Mercu Buana
  3. Universita Paramadina

Tentu saja, saya harus mencocokan waktu kuliah dengan waktu bekerja. Kemudian jarak dari rumah untuk sampai ke Kampus. Dari beberapa pertimbangan itu, akhirnya aku memilih Universitas Esa Unggul Kampus Harapan Indah, Bekasi. Kenapa pilih itu? Karena jadwal kuliah yang cocok dengan waktu bekerja saya. Yaitu setiap Sabtu, dari pagi sampai sore dan e-learing ( Online ) di hari kerja. Daaan tentunya, jaraknya dekat dengan rumahku. Yang aku rasain kok kayak jodoh aja gitu. Pas banget aja. Jadi aku nggak perlu kuliah jauh. Dan tetap di jurusan Psikologi. Universitas yang tidak ku pilih pada listing itu karena jauh sekali jaraknya. Jadi aku pilih yang dekat aja, agar memudahkanku untuk ke Kampus.

Tanggal 1 September 2019, aku resmi menjadi Mahasiswa Baru 2019 di Universitas Esa Unggul Kampus Harapan Indah. Senang? Tentu. Saya tidak pernah membayangkan bakalan kuliah di Universitas Swasta yang terbilang elit, mehong alias mahal. Nggak nyangka sih, dan belum pernah tebayang. Karena dulu bayanganku aku akan kuliah di PTN. Jadi belum pernah membayangkan PTS sedikitpun. Tentu saja, terima kasih kepada Allah, saya diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Bangga, karena pakai uang sendiri.

Siapapun kamu,

Kamu S1 hebat,

Kamu D4, D3 hebat,

Kamu gagal masuk PTN setelah berjuang habis-habisan? kamu juga hebat.

Tapi yang paling hebat adalah..

Mereka yang tetap berjuang dan mereka yang duluan kasih hasil keringatnya atau meringankan beban orang tua.

Siapapun kamu, kamu punya kesempatan yang sama.

– RipaJP

Dari semua rangkaian peristiwa yang kulewati dan kualami, semua ada hikmah didalamnya. Yang patut kita syukuri dan ikhlasi. Yakin dan percaya bahwa rencana Allah adalah yang terbaik. Jangan takut gagal, yang penting adalah usaha dan berdoa. Kalau belum sesuai sama apa yang kita inginkan, ikhlas aja mungkin itu yang terbaik buat kita.

Semoga segala urusan teman-teman dimudahkan, tentunya segala target yang mau kalian capai. Sukses selalu, semoga bermanfaat.

Referensi ayat:  https://muslimah.or.id/1830-boleh-jadi-kamu-membenci-sesuatu-padahal-ia-amat-baik-bagimu.html

2 thoughts on “Aku Maba 2019”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *