Gaya Hidup

Proses Memberanikan Diri

Sudah lebih dari setahun saya memulai untuk tidak berjabat tangan dengan yang bukan mahram. Tepatnya tanggal 26 Juni 2018. Pada kesempatan kali ini saya mau cerita bagaimana saya memutuskan untuk tidak jabat tangan lagi dengan yang bukan mahram.

Dulu saya belum mengetahui ternyata jabat tangan dengan yang bukan mahram itu dilarang dalam islam. Lambat laun saya mengetahui hal tersebut dari postingan kajian yang menjelaskan secara detail, mengapa kita dilarang akan hal itu. Dan dari sini saya sadar, dengan menambah ilmu pengetahuan kita mendapatkan segala kebaikan dan insyaAllah jalan yang Allah ridhoi, maka itulah yang sering dikatakan orang-orang juga, carilah ilmu sampai ke negeri Cina. Karena dari ilmu lah kita mendapatkan kebaikan.

Pengalaman saya, memutuskan hal tersebut memang tidak mudah. Apalagi buat orang seperti saya, selalu tidak enakan dengan orang lain. Saya sudah yakin dan teguh sama keputusan saya, mau tidak mau saya harus berusaha. Ketika awal saya memulai, banyak sekali kekhawatiran salah satunya ketika jabat tangan dengan atasan/Boss di kantor atau pekerjaan (rata-rata pengalaman teman-teman yang baru memulai juga sama seperti ini). Pikir saya, saya khawatir jika beliau menyimpulkan kalau saya tidak sopan karena menolak jabat tangannya. Saya sangat dilema saat itu. Bingung harus seperti apa. Padahal maksud saya bukanlah seperti apa yang beliau simpulkan, saya hanya mematuhi ajaran Islam mencoba memperbaiki diri. Tapi pada saat itu saya memberanikan diri untuk mencoba tidak jabat tangan dengan atasan saya. Dan responnya ternyata baik. Saya merasa disupport. Kekhawatiran saya sebelumnya sirna. Saya mulai berpikir lagi, toh pasti beliau memaklumi setiap keputusan yang orang lain ambil, toh beliau ngga ambil pusing juga dengan keputusan itu. Justru beliau mensupport dan menghargai setiap keputusan orang lain. Disini saya mulai lega, sudah bisa melawan kekhawatiran yang dibuat-buat sendiri. Pemikiran yang terlalu berlebihan.

Tapi, jujur sebelum se-lega ini. Saya memang benar-benar merasakan proses itu, tahap demi tahap saya lewati. Jika ada omongan dari teman yang tidak positif, jadikan itu juga penyemangat untuk tetap yakin dengan apa yang kita yakini. Kadang tidak jarang saya mendengar keluhan teman-teman saya yang baru memulai untuk memperbaiki diri, memperbaiki cara berpakaiannya, memperbaiki diri untuk memulai berhijab, dan banyak hal. Banyak dari mereka mengeluh karena lingkungan disekitarnya. Salah satu contoh, teman saya yang ingin memulai memakai rok dan ingin meninggalkan memakai celana yang ketat/jeans. Hari pertama dia pakai, sudah di perolok, sudah di ledekin, itu dari lingkungan sekitarnya sendiri. Yang pada akhirnya membuat temanku itu merasa mentalnya down, dan merasa kayaknya belum pantes untuk memulai hal itu. Padahal, kita tidak tahu, bagaimana usaha dia memulai keberaniannya untuk berubah dari kebiasaannya, tapi ketika sudah memiliki keberanian itu, mentalnya kita buat down dengan meledekinya. Sejahat itu ngga sih kita? Sebaiknya kita mendukung, menghargai keputusannya, dan terus mereminder dia untuk tetap mempertahankan itu atau alangkah baiknya kita sama-sama untuk merubah diri kita. Bareng-bareng. Supaya selalu saling mengingatkan.

Jadi apasih penjelasan tentang larangan tersebut?

Menurut pendapat ulama berjabat tangan dengan yang bukan mahram adalah tidak dibolehkan. Hal ini untuk menghindari rasa suka (syahwat) dari yang bukan mahram tersebut. Karena dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah sekalipun berjabat tangan dengan yang bukan mahramnya.

‘Urwah bin Az Zubair berkata bahwa ‘Aisyah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata,

كَانَتِ الْمُؤْمِنَاتُ إِذَا هَاجَرْنَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُمْتَحَنَّ بِقَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لاَ يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلاَ يَسْرِقْنَ وَلاَ يَزْنِينَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ. قَالَتْ عَائِشَةُ فَمَنْ أَقَرَّ بِهَذَا مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ فَقَدْ أَقَرَّ بِالْمِحْنَةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَقْرَرْنَ بِذَلِكَ مِنْ قَوْلِهِنَّ قَالَ لَهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْطَلِقْنَ فَقَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». وَلاَ وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ. غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ – قَالَتْ عَائِشَةُ – وَاللَّهِ مَا أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى النِّسَاءِ قَطُّ إِلاَّ بِمَا أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَمَا مَسَّتْ كَفُّ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَفَّ امْرَأَةٍ قَطُّ وَكَانَ يَقُولُ لَهُنَّ إِذَا أَخَذَ عَلَيْهِنَّ « قَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». كَلاَمًا.

“Jika wanita mukminah berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka diuji dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina ….” (QS. Al Mumtahanah: 12). ‘Aisyah pun berkata, “Siapa saja wanita mukminah yang mengikrarkan hal ini, maka ia berarti telah diuji.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berkata ketika para wanita mukminah mengikrarkan yang demikian, “Kalian bisa pergi karena aku sudah membaiat kalian”. Namun -demi Allah- beliau sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun. Beliau hanya membaiat para wanita dengan ucapan beliau. ‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan. Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka. Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian.” (HR. Muslim no. 1866).

Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman perbuatan tersebut, walau hadits tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh ulama lainnya.

Pelajaran yang saya ambil dari proses ini adalah banyak. Dapat mendekatkan diri kepadaNya, selain itu saya jadi lebih menghargai proses orang lain dalam memperbaiki diri, saya lebih santai dalam memikirkan sesuatu hal (karena berlebihan itu ngga baik), memulai untuk lebih mencari ilmu pengetahuan yang belum pernah ku dapatkan, memberanikan diri untuk keputusan yang diambil, yang paling penting menebarkan manfaat untuk orang lain, dan tidak mudah terpengaruh dengan omongan negatif orang lain, sing penting yakin. Alhamdulillah. Semoga tulisan ini bisa menjadi reminder untuk teman-teman terutama untuk diri saya sendiri. Insya Allah, semoga Allah merahmati~

Referensi bacaan: https://rumaysho.com/10109-hukum-berjabat-tangan-dengan-lawan-jenis.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *