Gaya Hidup

Udah Nawar, Berhutang Pula

Sudah hampir 3 tahun saya tinggal di Rumah hanya bertiga oleh bapak, ibu, dan saya sendiri. Saya 3 bersaudara, saya anak bungsu. Kaka saya yang pertama sudah menikah dan sudah tinggal di Rumahnya sendiri. Sedangkan kaka saya yang kedua, sedang kerja dan kost di daerah Cibitung.

Setiap hari saya selalu menjadi tempat curhat kedua orang tua saya, segala keluh kesahnya tumpah ruah ke saya, canda tawanya pun juga. Bapak saya suka cerita keluh kesahnya ke Ibu saya saat pulang atau kembali ke Rumah setelah lelahnya bekerja. Terkadang saya suka mendengarkannya. Yang selalu saya dengar adalah keluhan kalau pelanggan bapak selalu tidak menghargai pekerjaan yang dilakukan bapak. Bagi pembaca setia blog saya pasti sudah tahu apa profesi pekerjaan bapak saya. Bapak saya bekerja dibidang jasa, jasa mobil angkut barang, pindahan, angkut sayuran dll. Kecuali angkut puing dan tidak menerima orderan lepas kunci, alias harus sama jada sopirnya. Promosi dikit ya gaes. Hehehehehehe. Bapak selalu mengeluhkan pelanggan yang menurut saya tidak manusiawi. Batin saya rasanya teremas-remas saat ada orang yang memperlakukan bapak saya seperti itu. Ingin rasanya membalas perlakuan orang itu terhadap bapak saya.

Pelanggan yang bapak ceritakan kebanyakan yang selalu membuat saya jengkel. Salah satunya pelanggan si X ini, beliau telfon bapak saya, bilang ke bapak saya bahwa akan order jasa bapak, dia sebutkan tempat yang dituju dan berapa kali angkut barang, kemudian menanyakan harganya, ketika bapak menjawab harganya, dia bilang kemahalan, kemudian membandingkan dengan jasa di orang lain. Bapak sudah bilang, jika kemahalan, pakai jasa di orang lain saja. Tentu harga yang bapak berikan bukan sembarang harga, bukan asal menentukan, sudah banyak pertimbangannya dari mulai cicilan mobil, bensin, jasa, uang makan sopir dan minum. Tapi bapak jarang memasukan harga dengan uang makan sopir, karena harganya akan menjadi lebih mahal. Tapi si X malah tetap order di bapak saya, yang artinya adalah sudah deal dengan harga yang di tawarkan.

Setelah tiba di hari pengangkutan barang, bapak saya disuruh menunggu barang tersebut selesai, beberapa jam bapak saya menunggu tanpa kepastian. Saya bingung, kenapa masih banyak orang yang seperti itu, seakan-akan hanya dirinyalah yang sibuk banyak memiliki urusan, dan dia tidak memikirkan waktu orang lain. Bukan hanya itu, bahkan dia tidak bisa menepati komitmennya untuk tepat waktu. Setidaknya jika belum selesai, jangan diinfokan untuk langsung datang. Bahkan dia nggak memikirkan bahwa waktu makan orang lain tertunda gara-gara harus menepati janji tersebut. Yang saya selalu salut dengan bapak saya adalah dia nggak pernah dendam, nggak pernah mengungkapkan kekesalannya di depan orang tersebut. Bapak selalu bilang “Biar Allah yang balas perbuatannya”.

Setelah pengangkutan barang seharian, sampai malam tiba. Bapak sudah lelah, bahkan bapak ingin cepat-cepat pulang bertemu istri dan anaknya, makan bersama, memberi istri uang belanja untuk esok hari. Bapak penuh harap dan sudah tidak sabar untuk mendapatkan upahnya. Tapi harapan bapak sirna, si X tidak memberikan upah itu. Si X menahan upah itu. Si X berhutang kepada Bapak. Bapak mau tidak mau menerima, tidak bisa berbuat apa – apa. Bapak nggak pernah dendam, bapak melampiaskan kekesalan dengan cerita ke istrinya. Mungkin kalau aku ada di posisi Bapak, aku sudah memaki-maki orang itu dan bahkan aku tidak akan pernah mau untuk mengambil orderan dia lagi. Tapi Bapak tidak pernah seperti itu. Sudah seharian menunggu, tidak diberikan makan, dan upah ditahan. Menurutku orang itu sangatlah jahat. Dia hanya memikirkan dirinya dan urusannya saja. Dia tidak memikirkan bagaimana perasaan dan urusan Bapak saya. Mungkin dia tidak memikirkan bahwa Ibu saya juga butuh uang untuk hari esok.

Sebulan sudah terlewati, si X tak kunjung untuk membayarnya. Setelah satu bulan, dia membayar upah tersebut, tapi dengan upah yang tidak full. Tidak sesuai kesepakatan di awal. Saya masih nggak menyangka ada orang yang seperti itu, sudah membayar telat satu bulan, upahnya tidak full lagi. Saya cuma bisa mendo’akan dia, supaya Allah kasih hidayah.

Jengkel sekali rasanya mendengarkan cerita itu semua. Hatiku hancur rasanya Bapak di perlakukan tidak baik dan sama sekali tidak dihargai. Semua pasti akan ada hikmahnya, Allah melihat dan mendengar semuanya. Biar Allah yang membalasnya. Doa’in aku Pak, Bu semoga aku bisa mengangkat derajat Ibu dan Bapak supaya tidak ada orang lain yang berbuat seenaknya.

Saya banyak belajar bagaimana seharusnya menyikapi orang lain, bagaimana menghargai orang lain dari kantor saya bekerja sekarang yaitu Excellent. Pak Vavai selalu bilang kurang lebih seperti ini “Kita nggak boleh nahan atau menunda hak orang lain dalam hal ini adalah upah, karena mau di bayar nanti atau sekarang, kita tetap harus membayarnya atau mengeluarkan uang tersebut, jadi tidaklah ada bedanya. Kalau kita menahan hak orang lain, pasti orang lain akan berlaku sama ke kita, dalam artian rejeki kita dari orang lain akan tertahan.” Saya selalu ingat perkataan itu, Allah maha adil kok. InsyaAllah Allah kasih balasan yang setimpal. Mungkin tidak sekarang atau hari ini, tapi nanti ketika waktunya tiba~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *