Gaya Hidup Islam

Tetap Istiqomah saat Ditimpa Musibah

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Apa kabar sahabatku? Semoga dalam keadaan baik dan penuh keberkahan.

Kali ini saya akan membagikan catatan kajian dari Ustad Maududi Abdullah, yang Alhamdulillah bisa teman-teman baca dan menjadi pengingat diri ini dan teman-teman.

Mohon maaf jika ada kekurangan dalam catatan yang akan saya sampaikan di artikel ini. InsyaAllah bermanfaat untuk teman-teman.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

Pada ayat di atas menjelaskan bahwa, kita (manusia) tidak akan sanggup untuk menghitung segala ni’mat yang Allah berikan kepada (manusia).

Ustad Maududi juga menjelaskan salah satu penunjang kita akan mampu melihat ni’mat Allah adalah dengan mentadabburi (merenungi) ayat-ayat Al-Qur’an.

Dengan merenungi ayat demi ayat dalam Al-Qur’an kita akan menyadari dan melihat segala ni’mat yang Allah sudah kasih selama ini.

Sumber: Pixabay

Bicara pada topik kali ini adalah tentang “Musibah“. Bahwasannya Musibah adalah setengah daripada hidup kita, tidak ada manusia yang tanpa memiliki musibah. Tidak akan pernah ada. Karena dari musibah tersebut, Allah ingin hambanya merasakan pedihnya sebuah musibah. Maka dari itu, kalau ada saudara kita yang bilang tidak ingin memiliki musibah. Jawabannya adalah tidak akan pernah bisa, karena setiap orang pasti setengah dari hidupnya adalah musibah.

Kemudian yang setengahnya lagi adalah rahmat Allah, ni’mat yang datang dari Allah SWT. Karena Allah ingin menguji kita (manusia) pada dua hal di permukaan bumi ini yaitu Musibah dan Rahmat ( ni’mat ) Allah.

Dan yang setengahnya lagi adalah rahmat Allah. Ni’mat yang datang dari Allah SWT.

Kebaikan yang hakiki adalah ada pada seorang mukmin, seorang muslim sejati tidak akan pernah terlepas dari dari 3 keadaan yang adalah tanda kebahagiaan baginya yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat kesusahan maka dia bersabar, dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar.

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” 

(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Dari hadits di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia akan hidup dengan sesuatu yang dia inginkan dan sesuatu yang tidak dia inginkan sekalipun. Semua adalah kehendak Allah SWT.

Orang mukmin menanamkan sifat syukur ketika diberikan ni’mat oleh Allah SWT, dan orang mukmin menanamkan sifat sabar, untuk sesuatu musibah yang datang kepadanya. Bahwa seluruh isi dunia ini adalah milik Allah, Allah yang mengatur segala sesuatunya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah: 156) Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)

Kita harus meyakini bahwa hidup ini akan berjalan sesuai dengan apa yang Allah mau, bukan yang kita mau.

Kita harus ridho dalam bencana yang Allah berikan kepada kita, boleh kita menangis dan bersedih di saat kita ditimpa musibah tapi hati kita tidak boleh benci kepada kehendak yang Allah berikan.

Ustad Maududi juga menjelaskan, bahwa ketika seseorang mendapatkan musibah, kemudian ia sampai berteriak-teriak meronta-ronta sambil menangis, memukul-mukul dirinya, apalagi sampai dia menyalahkan Allah semua itu dapat dikategorikan Dosa. Karena tidak bersikap sabar dalam menghadapi musibah yang Allah berikan.

Ni’mat Allah akan datang jauh lebih banyak daripada musibah. Jika kamu tidak percaya, coba kamu pikirkan, Allah lebih banyak memberi sakit atau sehat? Tentu saja sehat kan? Maka dari itu musibah pasti ada setengah dari hidup kita. Tidak akan selamanya hidup kamu susah terus, dan tidak akan selamanya hidup kamu senang terus. Semua sudah di atur porsinya yang pas oleh Allah.

Bagaimana cara kita menyikapi musibah ketika datang?

Selalu siapkan Sabar sebelum musibah datang. Sekarang kita sudah tahu bahwasanya kita pasti akan mendapatkan musibah. Tapi datangnya kapan kita tidak pernah tahu selain Allah SWT. Maka dari itu kita harus mempersiapkan Sabar sebagaicara untuk menyikapi musibah yang datang.

Kisah wanita sedang bersedih karena anaknya meninggal

Kata nabi: “Wahai wanita, bertakwalah dan bersabarlah atas musibahmu.”

Kata wanita: “Menjauhlah engkau dariku, engkau tidak mendapat derita seperti apa yang aku rasakan.”

Wanita itu tidaklah sadar bahwa ia sedang mengajak berbicara nabi, tidaklah sepantasnya nabi a.s mendapatkan perkataan sedemikian kasarnya sepertiitu, karena nabi adalah utusan Allah, jauh lebih luar biasa ujian yang nabi dapatkan melebihi apa yang dirasakan oleh wanita itu.

Oleh karena itu tugas kita sebagai orang yang tidak ditimpa musibah adalah menghibur yang ditimpa musibah.

“Allah sengaja untuk menguji kita dengan musibah, untuk menguji kesabaran kita sudah sampai mana.”

Allah ingin menghapuskan dosa-dosa hambanya, jika manusia mengamalkan sikap sabar ketika mendapatkan musibah. Tidak mungkin Allah menginginkan keburukan untuk hambanya, Allah tahan dosanya untuk Allah berikan di Akhirat nanti. Tidaklah mungkin. Karena Allah maha pengampun.

Apabila Allah menginginkan keburukan untuk hamba, Allah tahan dosanya untuk Allah berikan di Akhirat.

Semakin besar musibah yang Allah berikan, semakin besar dosa yang akan dihapuskan oleh Allah SWT.

“Barang siapa yang ridho dengan keputusan Allah, Allah pun akan ridho kepadanya.”

“Jangan kamu benci bencana bencana yang kamu dapatkan, bisa jadi di dalamnya terdapat keselamatan bagimu. Musibah itu bisa menjadi ni’mat jika kita menyikapinya dengan Sabar. “

Dianjurkan kepada seorang mukmin berdoa ketika mendapatkan musibah dari Allah SWT.

انا لله وانا اليه راجعون

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Sekian yang dapat saya jabarkan, semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh

Sumber:

Ustad Maududi Abdullah, 28 Juli 2019, Al-Azhar SMB

https://muslim.or.id/7198-memahami-syukur.html

https://rumaysho.com/3347-tak-sanggup-menghitung-nikmat-allah.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *