Gaya Hidup Wisata

Masjid Kubah Emas, Depok

Rencana awal aku akan mengunjungi Masjid Kubah Emas di hari Jum’at, 19 April 2019. Tapi ternyata rencana di hari itu gagal, untung saja bukan wacana. Tetap jadi, tapi di ganti menjadi hari Sabtu. Karena hari Jum’at ternyata ibu ada acara penutupan pengajian.

Pada hari Sabtu Ibu juga masih ragu, mungkin karena jarang jalan-jalan, makanya Ibu ragu dan mungkin kekhawatiran yang membuat beliau ragu. Padahal yang dikhawatirkan belum tentu terjadi. Bapak juga sepertinya ragu, sempat mau mengantarkan kesana, tapi ragu juga. Akhirnya bismillah untuk jalan-jalan berdua sama Ibu di hari Sabtu.

Seperti rencana yang sudah saya tuliskan pada artikel sebelumnya Rencana Jalan-jalan ke Masjid Kubah Emas. Beberapa yang direncanakan tidak sesuai kenyataan.

Pagi itu kami berangkat dari rumah pukul 07:00 WIB mengendarai motor ke Stasiun Bekasi. Setelah parkir motor, kami masuk ke Stasiun Bekasi. Karena saya sudah persiapkan KMT alias Kartu Multi Trip untuk Ibu saya, yang saya pinjam dari rekan kerja saya yaitu mba Rahmi. Karena saya hanya punya satu KMT yang biasa saya pakai. Jadi lebih cepat, karena tidak perlu antre lagi untuk membeli tiket THB ( Tiket Harian Berjamin ).

Kemudian ibu saya melakukan tapping di gate in, tetapi ibu bingung, maklumlah jarang naik KRL. Akhirnya saya ajari bagaimana tappingnya. Lolos dan langsung menuju jalur 2 yaitu jurusan akhir Stasiun Manggarai. Karena di Stasiun Manggarai aku akan transit ke arah Bogor.

Setelah berada di dalam KRL suasana tidak terlalu penuh, tapi tidak ada tempat duduk kosong. wkwk. Aku sengaja memang memilih gerbong wanita, karena lebih nyaman dan aman, meskipun aman juga nggak menjamin, harus tetap hati-hati. Tidak seperti kalau berangkat pagi kunjungan ke Jakarta lah ya penuhnya, mungkin karena waktu itu hari Sabtu jadi lumayan longgar.

Setelah transit di Stasiun Manggarai kemudian naik kereta arah Bogor dan akan turun di Stasiun Depok Baru. Kereta ini memang terakhir di Stasiun “Depok”, kenapa nggak turun di Stasiun Depok saja? nggak. Karena setelah saya lihat di Maps malah jadi lebih jauh.

Dari Stasiun Depok Baru, kemudian keluar ke arah Pintu barat yaitu pintu belakang, kebetulan aku akan melanjutkan perjalanan menggunakan Go-car, kalau hendak pesan Go-car pasti bingung patokannya apa? Kamu nanti ketika pesan pilih lokasi jemputnya di “Shelter Ojek Online” kemudian nanti kamu jalan ke arah kiri keluar dari tempat parkir. Supaya Go-carnya nggak masuk ke Stasiun.

Jarak dari Stasiun Depok Baru ke Masjid Kubah Emas hanya 8KM, tapi waktu tempuhnya 30 menit lebih. Sangat luar biasa. Beda kali waktu saya jalan-jalan ke Semarang, Jepara, Yogyakarta, 8KM hanya membutuhkan waktu tempuh 15 menit. Ternyata Depok super duper macet. Maka dari itu saya disarankan oleh driver Go-carnya untuk melewati jalan kampung/perumahan, jalanannya kurang rapi, bikin perut mual, namanya juga jalan kampung. Hehe. Biaya Go-carnya Rp32.000. Ohiya, kalau teman-teman mau kesana, pakai OJOL minta drivernya turunkan di pintu samping saja, supaya kamu nggak jalan kaki dari gerbang besarnya, karena lumayan lho jalan kakinya, tapi nggak bakal kesel kok, kebayar lah sama bagusnya taman disana. Gerbangnya super besar, melebihi gerbang Firdaus Fatimah Zahra yang pernah aku kunjungi di Semarang.

Yeay, akhirnya sampai di Masjid Kubah Emas!

Aku sampai di Masjid Kubah Emas pukul 10:30 WIB. Tidak sesuai dengan perencanaan awal yang akan sampai Pukul 10:00 WIB, karena berangkat dari rumahnya kesiangan. Hehe. Suasana disana adem karena sedikit mendung tak kulihat matahari muncul, cuaca yang mendung membuat kita adem saat mengelilingi Masjid Kubah Emas yang 50 Hektar itu. Luas sekali. Dikelilingi kebun. Semua tanaman, bunga, indah sekali. Cuaca yang mendung juga membuat cahaya di foto tidak cerah. Hehe.

Masjid Kubah Emas dari Kejauhan

Sayang sekali karena banyak pohon yang sudah tinggi-tinggi, jadi kalau melihat dari kejauhan kubah emasnya tertutup. Huhu.

Disana juga ada jasa foto langsung cetak ukuran 5R harganya Rp20.000/lembar, tapi sayang waktu itu saya membelinya hasil fotonya kurang bagus, kontras nya terlalu gelap, mungkin ingin mendapatkan efek kubah emasnya.

Disana juga ada gedung serbaguna yang biasa dipakai walimahan atau acara-acara tertentu yang cukup besar. Sambil mengelilingi, saya sempat bingung dimana tempat untuk masuk wanita/tempat sholat wanita. Karena ternyata tempat masuk wanita dan laki-laki berbeda. Untuk wanita sedikit lebih ke arah belakang searah dengan tempat makan atau souvenir.

Kemudian sampailah di tempat masuk wanita, dan bergegas untuk masuk karena sudah nggak sabar ingin melihat arsitektur gaya Timur Tengah secara dekat. Gaya nya sedikit seperti arsitektur Masjidil Haram.

Tempat masuk wanita

Pada foto di atas ketika masuk ke dalam akan ada replika Ka’bah di tengah-tengah, replikas Hazar aswad, dan replika maqom ibrahim.

Replika Hajar Aswad
Replika Maqom Ibrahim
Replika Ka’bah
Suasana di dalam Masjid Kubah Emas

Setelah berada di dalam Masjid, Ibuku sholat dhuha dan membaca Qur’an tanpa ku temani, karena aku sedang haid. Peraturan disana jika wanita sedang berhalangan tidak boleh memasuki Masjid.

Ibuku senang sekali diajak kesini, beliau sampai bilang. “Mama nggak percaya dehh bisa sampe kesini ditemenin kamu”

Sama ma, aku juga seneng. Besok-besok jalan-jalan lagi ya ma, sehat terus 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *