Gaya Hidup

Mencoba Menjadi Mandiri

Dari perjalananku liburan kemarin, banyak sekali yang ku dapat. Aku ingin berterimakasih kepada atasanku di Kantor sudah memberikan kesempatan/tantangan ini, kemudian terima kasih kepada kedua orangtuaku yang tanpa izin beliau aku tidak akan bisa melakukan hal ini, yang dari awal saya tidak berani menyampaikan perihal undian jalan-jalan ini kepada bapaku. Karena takut tidak dibolehi malah di marahi. Tapi ternyata prasangka ku salah, aku diizinkan dengan perlindungan dari Do’anya. Terima kasih juga untuk diriku sendiri, karena sudah bisa melewati semuanya dengan cukup baik. Berikut kesimpulan yang dapat ku utarakan:

  1. Merencanakan perjalanan

Merencanakan perjalanan sangatlah penting, dari mulai hari pertama sampai hari terakhir liburan. Mencari referensi wisata-wisata yang keren untuk dikunjungi dan bagaimana akomodasi disana.
Karena aku baru pertama kali jalan-jalan sendirian, banyak hal-hal yang sudah ku rencanakan tidak terealisasikan. Alasannya karena kurangnya memikirkan atau memanajemen waktu rilnya. Kita juga harus paham kondisi tubuh kita saat itu, selain merencanakan wisata apa saja yang kita mau kunjungi, buat juga rencana kita rileks beristirahat sejenak. Aku ingin mengunjungi beberapa kota tapi dengan waktu singkat, dan rasanya ingin sekali semua wisata ku kunjungi, tapi itu adalah hal mustahil karena waktu tidak akan mencukupi.

Untuk transportasi dan penginapan juga sudah ku persiapkan matang, meskipun ada beberapa yang terlalu aku gampangkan.

Pelajaran untuk kedepannya nanti jika membuat perencanaan perjalanan adalah, benar-benar memperhitungkan kondisi tubuh, mempersiapkan segala transportasi yang akan kita gunakan untuk mengunjungi wisata.

Jangan lupa untuk membuat plan B. Untuk jaga-jaga ketika ada hal yang sudah kita rencanakan tetapi hal tersebut tidak bisa kita realisasikan. Contoh seperti saya waktu rencana dari stasiun Yogyakarta ingin ke stasiun Wates, aku rencana ingin ke kali biru, Wates. Hanya saja gagal, karena tiket kereta PRAMEKS terlanjur habis. Akhirnya aku mengubah semua planku saat itu juga. Jika sudah ada plan B, kita nggak akan bingung lagi untuk menyusun plan baru. Karena dalam keadaan seperti itu butuh waktu untuk memikirkan plan selanjutnya.

2. Hidup mandiri, tidak Bergantung kepada orang lain

Aku memulai perjalanan liburan ini pertama kali tanpa ditemani siapa pun, dan tidak memiliki saudara di beberapa kota yang aku kunjungi yaitu Semarang – Jepara – Yogyakarta. Segala asam-manis-pahit ku jalani begitu saja sendirian. Segala kebodohan yang ku lakukan sendiri, adalah pelajaran yang aku dapat. Aku menyadari, kekuranganku adalah selalu merasa tidak enakan dengan orang lain yang dampaknya ya ke diriku sendiri.

Mandiri dari mulai menjaga barang-barang yang ku bawa dengan aman, menjaga diriku sendiri, mendisiplinkan diri sendiri, bertanggung jawab untuk diri sendiri.

Aku juga nggak percaya dan bangga sama diriku sendiri yang bisa melewati tantangan kemarin. Hal yang belum pernah ku lakukan alias hal baru bisa ku lewati dengan cukup baik.

Memanajemen waktu juga sendiri, kalau selepas subuh tidur lagi, bangun kesiangan, kereta akan tertawa jahat sambil melambaikan tangan di dalam mimpi yang artinya kita ketinggalan kereta.
Alhamdulillah itu tidak terjadi kemarin. Karena akan kacau bilamana itu terjadi. Semua plan hancur.

Mengatur pola makan sendiri, karena berada di tempat yang tidak biasa kita tempati, makanan adalah hal yang memang terkadang sulit. Karena kita nggak tahu dimana makanan yang enak dan murah. Sangat sering kita hanya menebak-nebak bagaimana rasa dari makanan yang kita beli. Atau terkadang kita lebih memilih makanan yang sudah pasti-pasti saja, pasti harganya, pasti rasanya, seperti KFC dan sejenisnya.

Mengatur barang bawaan ketika ingin bepergian, mengatur mana saja barang yang ditaruh di penginapan dan barang apa saja yang dibawa bepergian. Jadi jika sekiranya barang nggak penting ya nggak usah di bawa.

Mempersiapkan barang bawaan sebelum pergi juga sangatlah penting, karena dengan persiapan yang matang, segala hal masalah yang kita dapatkan saat hari H akan sangat membantu sekali. Seperti mempersiapkan obat-obatan, karena kita sendiri, kita nggak bisa bergantung kepada orang lain. Misalnya minta tolong orang lain belikan obat-obatan.

3. Mengenal banyak orang

Banyak orang-orang yang aku temui ketika jalan-jalan kemarin yang semuanya ramah dan baik. Meskipun kekhawatiran ketika memulai untuk berbicara dengan orang lain itu sangatlah kuat.

Bahwa aku juga mengerti untuk membedakan bagaimana menyikapi orang-orang yang emang benar-benar ingin berbuat baik dan jahat.

Banyak sekali orang-orang yang heran, kenapa aku jalan-jalan sendiri? aku kan perempuan. Aku juga nggak punya saudara di kota-kota tersebut. Bagaimana aku bisa seberani ini? ? ?
Sampai ada juga ibu-ibu yang menanyakan sudah punya pacar atau belum? langsung takut aku ditanya gitu, pengen cepat-cepat kaburrr.

Aku juga heran, kenapa nanyanya gitu?

Aku kenalan di Tugu Semarang oleh mbak Khodijah dan mas Uki yang mereka juga tinggalnya tidak di Semarang tapi di Purwokerto dan Solo. Meskipun awalnya aku ragu dan khawatir juga. Tapi Alhamdulillah mereka baik.

Kemudian beberapa ibu-ibu yang menegurku ketika aku sendirian dan aku nggak nanya namanya. Ketika aku berada di Jawa, orang-orang disana selalu menegurku dengan ramah, bahkan setiap orang bertemuku selalu bilang “hati-hati yaa, barang bawaannya juga jangan ditinggal”

Karena disetiap kota aku pasti selalu berbicara dengan masyarakat dengan menaiki OJOL. Tak jarang aku menanyakan oleh-oleh khas daerah tersebut apa sih. Kemudian menanyakan beberapa keunikan yang ada di daerah tersebut. Dari situ juga aku banyak mengenal kriteria orang, karena pasti berbeda-beda.

Kadang mereka mengajakku ngobrol menggunakan bahasa jawa, tapi setelah ku menjawab pakai bahasa indonesia, mereka langsung menyesuaikan (dengan tidak memakai bahasa jawa). Karena saya bingung cyin. Hehe. Maklum lahir di Bekasi.

4. Perbedaan suasana

Dari segi suasana, sangatlah berbeda ya. Suasana di Semarang & Yogyakarta sudah hampir mirip dengan Jakarta, hanya saja disana masih memiliki suasana tradisional. Tingkat kemacetannya juga tidak tinggi, karena macet hanya dikarenakan lampu merah.
Jalanan juga sudah rapi.

Berbeda halnya dengan Jepara! Jepara hampir kurasakan tidak ada kemacetan, jalanan selalu longgar, bahkan kalau kamu mau nyebrang tak udah menunggu lama, karena jalanan sepi. Bahkan kalau kamu berangkat sekolah terlalu mepet waktunya pun pasti masih keburu. Kota yang nyaman untuk bersitirahat dari riuhnya kota Bekasi.

Buat teman-teman yang belum membaca keseruanku jalan-jalan selama 1 minggu di 3 kota yang berbeda silakan akses di link berikut:

  1. Barang Yang Wajib Dibawa Saat Travelling
  2. Berada Diantara Awan
  3. BRT, Tugu Muda, dan Hotel Sleep & Sleep Semarang
  4. Wisata Religi Di Semarang
  5. Riuh Ombak di Pantai Kartini Jepara
  6. Proses Pembuatan Kain Tenun di Troso, Kabupaten Jepara
  7. Museum R.A Kartini, Jepara
  8. Pantai Bandengan Jepara, berlanjut ke Simpang Lima Semarang
  9. Makanan Legendaris Yogyakarta: Yammie Pathuk
  10. Wisata Bersejarah di Yogyakarta

Selamat merencanakan perjalananmu! Terima kasih Semarang-Jepara-Yogyakarta pengalamannya. Sampai ketemu di perjalanan lainnya! Have a nice Day!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *