Gaya Hidup

Wisata Bersejarah di Yogyakarta

Kali ini aku akan mengunjungi Candi Prambanan menggunakan kendaraan Transjogja, pasti penasarankan? Yuk jangan sampai lewatkan keseruannya.

Pagi ini aku akan mengunjungi Candi Prambanan yang merupakan Candi yang bercorak agama Hindu. Candi Prambanan ini memiliki cerita yang sangat melegenda yaitu kisah cinta bertepuk sebelah tangan antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Aku akan sampai disana menggunakan transportasi darat yaitu Transjogja, untuk akses menuju Candi Prambanan menggunakan Transjogja sangatlah mudah, tidak perlu transit atau berpindah bus dengan mengeluarkan biaya Rp3.500 saja. Waktu tempuhnya hampir satu jam.

Rencananya aku akan kesana menggunakan transportasi darat yaitu Kereta Api lokal alias jarak dekat yang biasa disebut PRAMEKS. Maka dari itu aku langsung menuju Stasiun Yogyakarta, sebelumnya memang aku sudah cari tiket Prameks nya di KAI Access, tapi aku selalu undur-undur pembeliannya. Karena aku pikir akan sama seperti KRL yang bisa di beli beberapa menit sebelum keberangkatan. Ternyata sangatlah berbeda, karena KRL jam berangkat atau keretanya banyak maka dari itu setiap beberapa menit selalu ada. Beda dengan PRAMEKS ini, yang hanya ada di jam-jam tertentu saja mungkin karena kereta terbatas. Kesempatan untuk menaiki PRAMEKS pupus. Sebenernya kamu bisa booking tiket 3 jam sebelum keberangkatan di ruang reservasi yang disediakan oleh Stasiun Yogyakarta, hanya saja mulai antre dibuka pukul 08:00 WIB dan mulai di panggil pukul 09:00. Padahal setelah aku melihat review orang lain yang sudah menaiki PRAMEKS itu tidak semua yang memiliki tiket dapat tempat duduk, karena sistemnya sama seperti KRL Jabodetabek. Akhirnya aku langsung memikirkan plan B, kemudian terpikirkan untuk menaiki Transjogja. Kebetulan juga aku mau mencobanya.

Kalau di Semarang ada BRT, kalau di jogja ada Transjogja. Keduanya sama-sama bus tayo. Hehe. Halte yang paling dekat dengan posisiku sekarang adalah Halte malioboro satu yang berada di jalan malioboro, untuk sampai kesana bisa jalan kaki sekitar 400M. Lumayan dekat.

Pagi itu aku disambut oleh bapak-bapak polisi yang sedang lari pagi, sambil menyorakan semangat yang mengembara membuat suasana pagi hari itu sangat berwarna ditambah ketenangan Jalan Malioboro yang masih sepi karena belum ada yang membuka jualannya. Biasanya pedagang di Malioboro ini membuka dagangannya pukul 10:00 WIB hingga malam hari.

Setelah sampai di Halte Malioboro 1, aku langsung membeli tiket dengan harga Rp3.500 kemudian menanyakan petunjuk agar aku bisa sampai di Candi Prambanan.

Beliau memberi tahu kalau untuk sampai ke Candi Prambanan bisa naik bus 1A yang mana bus ini tujuan akhirnya adalah Halte Prambanan.

Ketika menaiki bus ini, kondisi di dalam bus sama saja seperti menaiki TransJakarta dan TranSemarang, hanya saja Transjogja ini berbeda karena rute nya yang lebih jelas, dan petugas yang memberi petunjuknya pun jelas, yang paling penting adalah supirnya nggak ugal-ugalan. Terbukti kok waktu aku pulang dan pergi supirnya berbeda dan sama-sama tertib. Tidak seperti TransSemarang yang supirnya ugal-ugalan membuat beberapa yang menaiki TransSemarang kecewa mungkin. Seperti saya. Hehe.

Perjalanan sampai ke Halte Prambanan cukup memakan waktu 1 jam. Untuk sampai ke Candi Prambanan hanya tinggal jalan kaki saja kira-kira 450M. Teman-teman juga bisa naiki becak yang tersedia di dekat Halte Prambanan, tapi saya lebih memilih jalan kaki.

Sesampainya di Candi Prambanan, aku disambut dengan parkiran yang cukup luas dan plang nama “Prambanan” berwarna putih.

Plang nama Prambanan

Aku langsung memasuki pendopo yang ada di belakang plang nama prambanan itu untuk membeli tiket masuk Candi Prambanan. Untuk tiket masuk Candi Prambanan sendiri Dewasa Rp40.000. Ada beberapa paket tiket untuk mengunjungi beberapa candi sekaligus. Seperti contohnya Candi Prambanan + Ratu Boko Rp.75.000. Karena di sekitar Candi Prambanan ini memang terdapat banyak candi-candi lainnya.

Suasana di Candi Prambanan sangatlah terik padahal aku sampai disana masih pukul 10.00 WIB tapi sudah panas sekali. Candi Prambanan ini memiliki cerita legenda Roro Jonggrang.

Dikisahkan ada seorang Raja bernama Prabu Boko yang memiliki putri cantik bernama Roro Jonggrang.

Suatu hari kerajaan Prabu Boko ini diserang oleh Kerajaan Pengging yang dipimpin oleh Pangeran Bandung Bondowoso. Naasnya, Prabu Boko meninggal dan seluruh kerajaan jatuh ke tangan sang pangeran.

Bandung Bondowoso rupanya sangat tertarik untuk memperistri Roro Jonggrang. Roro Jonggrang yang benci sekali terhadap pria ini memintanya untuk membuat 1000 candi dalam semalam.

Upaya yang mustahil agar keinginan Bandung Bondowoso gagal. Namun, ternyata pangeran ini sangat sakti. Ia pun memerintah para jin untuk membantunya.

Roro Jonggrang tak kurang akal, ia menumbuk lesung waktu dini hari agar ayam ayam berkokok. Karena mengira hari sudah pagi, maka para jin pun bergegas pergi padahal pekerjaan mereka belum semua beres. Setelah pagi, ternyata hanya 999 candi yang berhasil dibuat.

Roro Jonggrang pun senang, tapi tidak dengan Bandung Bondowoso. Karena menyadari kecurangan Roro Jonggrang, menyebabkan ia gagal mempersunting wanita yang dicintainya itu, ia pun mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi yang ke 1000.

Legenda ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Jawa sebagai asal usul Candi Prambanan. Konon patung Roro Jonggrang tersebut, yang merupakan jelmaan asli sang gadis, masih bersemayam di salah satu candi.


Di dekat pintu keluar Candi Prambanan juga terdapat museum untuk biaya masuknya sendiri free alias gratis. Aku mencoba untuk memasukinya namun hanya memasuki satu gedung saja, karena suasana yang sepi membuatku sedikit takut. Aku baca sekilas, bahwa sebelum pembuatan Candi, orang jaman dahulu mengetes tanah yang akan di gunakan untuk membangun lokasi candi, dengan cara tanah di siram dengan air, jika cepat menyerap artinya tanah ini cocok untuk dibangun candi. Kemudian beberapa cara bagaimana bisa orang jaman dahulu membuat candi sebagus ini. Uniknya candi Prambanan ini tidak di bangun dengan perekat seperti semen lho. Candi Prambanan ini hanya sekumpulan batu yang dirapatkan menjadi satu kesatuan, kemudian seorang arsitek pada jaman itu, langsung memahatnya dari dindingnya langsung. Keren juga ya!

Pada saat di Candi Prambanan memang lumayan banyak bule disana, aku memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara dengan meminta selfie. Awalnya aku nggak PD dan sedikit takut juga sih, akhirnya ku coba.

“Hi Miss, excuse me. Can I take a selfie with you?” Tanyaku yang sedikit malu-malu. hehe

“Yeah” beliau menjawab sambil tersenyum

“Thank you” Kataku sambil senyum.

Dulu waktu SMP aku nggak berani untuk mengajak bicara orang asing, aku cuma liatin aja temanku yang waktu itu mengajak bule untuk selfie. Akhirnya aku memberanikan diri, Horeee! Meskipun ndak sempat nanya namanya huhu.

Setelah berjalan-jalan ke Candi Prambanan, aku akan mengunjungi Kraton Yogyakarta.

Bangunan Kraton membentang dari utara ke selatan. Halaman depan dari Kraton disebut alun-alun utara dan halaman belakang disebut alun-alun selatan. Desain bangunan ini menunjukkan bahwa Kraton, Tugu dan Gunung Merapi berada dalam satu garis/poros yang dipercaya sebagai hal yang keramat. Pada waktu lampau Sri Sultan biasa bermeditasi di suatu tempat pada poros tersebut sebelum memimpin suatu pertemuan atau memberi perintah pada bawahannya.

Yang disebut Kraton adalah tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari kata : ka + ratu + an = kraton. Juga disebut kadaton, yaitu ke + datu + an = kedaton, tempat datu-datu atau ratu-ratu. Bahasa Indonesianya adalah istana, jadi kraton adalah sebuah istana, tetapi istana bukanlah kraton. Kraton ialah sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, arti filsafat dan arti kulturil (kebudayaan).

Untuk mengunjungi beberapa wisata lainnya seperti Taman sari, Museum Kereta dll, kamu bisa menaiki becak dengan Rp10.000 diantar ke 4 tempat yang berbeda. Tapi memang sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari Kraton Yogyakarta jadi kamu bisa jalan kaki.

Hanya saja beberapa museum seperti tidak terawat dan memiliki bau yang kurang sedap, membuat pengunjung sedikit terganggu dan tidak menikmati kenyamanan dalam berwisata. Semoga di tingkatkan lagi pelayanannya. Harga tiket masuknya sendiri Rp5.000, untuk turis lokal Rp7.000.

Segitu dulu ya teman-teman cerita perjalananku di Yogyakarta. Sampai ketemu di cerita liburan selanjutnya! 🙂

Referensi:

https://www.gudeg.net/direktori/61/kraton-yogyakarta.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *