Gaya Hidup

Makanan Legendaris Yogyakarta: Yammie Pathuk

Melanjutkan perjalanan kemarin di Semarang, bisa lihat ceritanya disini. Kota selanjutnya yang ingin aku kunjungi adalah Yogyakarta, alasan aku balik lagi ke Semarang adalah supaya ke Yogyakarta bisa menggunakan transportasi darat yaitu Kereta Api, karena aku yang sering “mabuk perjalanan” dan tidak bisa menahannya jika mual. Meskipun ada beberapa solusi yang ampuh, tapi kalau bisa memilih aku lebih suka naik kereta. Karena ini adalah perjalananku sendiri, akhirnya aku memilih untuk ke Semarang terlebih dahulu, karena di Jepara belum bisa menggunakan transportasi darat yaitu kereta api. Sebenernya ini tidak efesien sih, bisa menjadi pertimbangan lagi mungkin ketika nantinya ingin membuat rencana perjalanan.

Kereta Api Semarang – Yogyakarta hanya ada di jam-jam tertentu saja, dan yang paling OK hanya pagi hari pukul 06:15 WIB dan sampai Yogyakarta pukul 14:00 WIB. Sebenarnya itu sangat menguras waktu, padahal Semarang-Yogyakarta kan lumayan dekat. Awalnya saya ingin yang perjalanan malam, supaya nggak perlu sewa penginapan lagi. Tapi karena tidak ada, akhirnya saya mengambil yang itu saja.

Aku akan mulai naik di Stasiun Semarang Tawang yang lokasinya lumayan dekat dengan hostel yang aku tempati. Waktu tempuhnya hanya 5 menit. Aku berangkat pukul 05:30 WIB. Kemudian setelah sampai stasiun, membeli susu dan roti di Indomaret untuk mengganjal perut dan cetak tiket boarding pass, kemudian check-in. Kereta sudah tiba, dan aku mulai memasukinya. Setelah aku masuk, hanya ada aku saja, masih sepi, memang aku ini terlalu rajin.hehe.

Check in
Stasiun Semarang Tawang
Keadaan kereta yang masih sepi

Selama perjalanan aku nggak bisa untuk melanjutkan tidur, kemudian aku melihat kaca jendela dengan posisi dudukku berbalik arah, jadi mengurangi kenikmatanku melihat pemandangan, tapi aku tetap terpanah dengan keindahan tanah Jawa ini. Sepanjang menaiki kereta aku seperti sedang berwisata, karena banyak sekali melihat pemandangan yang mungkin belum pernah ku lihat.

Setelah sampai di Stasiun Yogyakarta, aku langsung memanjakan perut, karena perutku sudah demo karena belum diberikan haknya. Kebetulan aku ingin makan mie ayam, akhirnya aku pergi ke Yammie Pathuk dekat Stasiun Yogyakarta memesan Go-Jek. Sebelum aku bisa menikmati Yammie Pathuk, aku sempat kesal karena Go-Jek nya tidak bisa menjemput pelanggan di depan Stasiun Yogyakartanya, kami pelanggan harus jalan cukup lumayan jauh untuk dapat menghampirinya. Saya pikir adalah alasan lalu lintas, tapi kenyataannya setelah Go-Jek curhat ke saya, kalau mereka jemput penumpang di depan Stasiun Yogyakarta, drivernya akan di palak/memberikan uang paksaan senilai Rp200.000, oleh Ojek pangkalan yang ada disekitar Stasiun Yogyakarta.

Sesampainya di Yammie Pathuk, aku langsung memesan Yammie Pathuk pangsit basah + 2 baso kecil dengan harga Rp18.000. Kemudian habis melahapnya. Yammie Pathuk ini sangat terkenal di Yogyakarta, kuliner mie ayam ini konon katanya sangat legendaris di Yogyakarta yang buka mulai pukul 10:00 sampai dengan 20:00 WIB dan memang terbukti rasanya yang mantap, tapi biasanya kalau makan mie ayam pasti tersedia saus, akan tetapi disini berbeda, karena saya tidak melihat saus di atas meja makan, hanya ada sambal saja. Mungkin ini juga menjadi ciri khas dari Yammie Pathuk ini.

Setelah itu aku langsung Check-in ke Hostel OTU Yogyakarta. Hostel OTU ini share room, satu ruangan ada 6 orang atau 6 tempat tidur dan perempuan semua, jadi laki-laki dan perempuan di pisah. Hotel OTU ini juga dilengkapi oleh kolam renang yang cukup luas, alat masak, free kopi atau teh layaknya villa. Tapi yang menginap disini kebanyakan orang luar negeri alias bule.

Pertama kali sampai Yogyakarta aku disambut oleh keunikan kota ini, melewati titik nol Yogyakarta dan malioboro melihat bahwa Yogyakarta ini masih terlihat tradisional tapi tetap modern, karena sepanjang perjalanan masih banyak bangunan yang bersejarah. Pada sibuknya kota ini, kita bahkan dapat bersantai di pinggir jalan dengan duduk di tempat yang disediakan sambil memandang suasana riuh pasar malioboro. Momen yang jarang untuk di dapatkan. Bahkan kita juga bisa menggunakan Jogjabike yang di sediakan untuk berjalan-jalan di sekitar Malioboro dengan gratis. Jogja membuat saya nyaman dan jatuh cinta.

Keesokan harinya aku berencana untuk pergi ke Candi Prambanan, yuk intip terus keseruanku jalan-jalan.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *