Gaya Hidup

Museum R.A Kartini, Jepara

Setelah mengunjungi Proses Pembuatan Kain Tenun di Troso, Kabupaten Jepara, aku akan melanjutkan perjalanan ku ke Museum R.A Kartini yang berada di dekat Alun-alun kota Jepara.

Dari kabupaten Troso ke Museum R.A Kartini aku menggunakan Grab, aku sempat khawatir, karena rumah pengrajin ini sangat terpencil, alias masuk ke gang, takutnya nggak ketemu, atau bahkan nggak ada yang mau ambil orderan Grab ini. Tapi tetap ku coba dulu, akhiranya ketemu juga dengan driver Grab nya. Ternyata apa yang ku khawatirkan hanya sebatas ketakutan saja. Saya juga nggak terlalu khawatir karena jika masih ada handphone, mudah saja untuk mencari cara agar bisa sampai ke tempat tujuan yang terpenting jangan lupa bawa powerbank dan pinter-pinter mengambil peluang untuk bisa men-charger handphone.

Sesampainya di Museum R.A Kartini, aku disambut dengan patung R.A Kartini dan suasana yang sangat sepi. Pengunjungnya hanya aku dan tiga orang anak SD. Jika ke Museum hanya sendiri rasanya sangat menyeramkan, karena suasana yang hening dan sepi.

Sebelum menjelajah lebih banyak, berikut cerita singkat kehidupan R.A Kartini, Raden Ajeng Kartini merupakan wanita asal Jepara yang lahir pada 21 April 1879. Ayahnya adalah Bupati Jepara kala itu yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sementara ibunya merupakan tokoh agama yang disegani di Jepara yang bernama Mas Ajeng Ngasirah.

Sebagai anak Bupati, kartini hidup dengan berkecukupan, dan dapat bersekolah di ELS (Europase Lagere School) dan berhasil menyeleseikannya. Tetapi pada masa itu banyak teman-teman sepantarannya tidak bisa melanjutkan sekolah, mereka bahkan menikah dan melahirkan anak di usia muda.

Setelah lulus di ELS, sebenarnya kartini ingin melanjutkan sekolahnya. Tetapi apa daya karena memiliki kewajiban yang harus ditaati, sebagai perempuan sudah waktunya untuk dipingit dan menunggu seorang pria yang mau menyuntingnya. Maka kartini segera di sunting oleh Bupati Rembang yang bernama Raden Adipati Djojodiningrat, setelah tiga hari dipersunting, kartini di bawa oleh suaminya ke Rembang. Setelah proses melahirkan, kartini meninggal dunia.

Museum RA Kartini ini juga lumayan keren, dekorasinya sudah sangat modern dan unik. Sayang sekali museum ini hanya memiliki 3 gedung yang apabila dilihat dari atas gedung-gedung tersebut berbentuk huruf K, T, dan N yang merupakan singkatan dari nama KARTINI.

Museum ini menyiman benda – benda peninggalan R.A Kartini dan kakaknya, Sosro Kartono serta benda – benda kuno yang ditemukan di wilayah Kabupaten Jepara. Penyajian ruang koleksi dibagi menjadi empat ruang:

Ruang pertama yang merupakan badan gedung K digunakan untuk koleksi peninggalan R.A. Kartini yang berupa benda – benda serta foto semasa hidupnya.

Ruang kedua yang merupakan bagian dari kaki gedung K berisi peninggalan Sosro Kartono.

Ruang ketiga digunakan untuk penyajian benda – benda bersejarah dan purbakala yang ditemukan di wilayah Jepara serta hasil kerajinan Jepara yang terkenal seperti Tenun ikat Troso, anyaman bambu dan rotan.

Mata uang juga termasuk benda besejarah lho, kita juga bisa melihat bentuk atau desain uang pada masa lalu sampai sekarang ini.

Ruang keempat merupakan gedung T yang berisi tulang ikan raksasa bernama Ikan Joko Tua Jenisnya adalah Paus Gajah, yaitu ikan Paus yang punya belalai yang ditemukan di perairan Kepulauan Karimunjawa.

Di museum ini juga diperlihatkan buku hasil karya RA Kartini dan beberapa cuplikan tulisan hasil karyanya, kalau bisa di copy dan di bawa pulang saya mau tuh.Hehe. Tulisan yang saya suka adalah ini:

Setelah membaca surat yang ditulis oleh R.A Kartini diatas, pesan nya itu sangatlah menyentuh dan penuh harap yang besar kepada para perempuan. Jadi ayooooo semangat untuk meneruskan perjuangan R.A Kartini dengan menjadi perempuan yang percaya diri, ceria, kuat, antusias dan bermanfaat untuk masyarakat luas!

Pada masa Belanda, beliau juga menerbitkan buku yang berjudul dari kegelapan menuju cahaya tulisan karya-karyanya, yang beredar dan menarik perhatian masyarakat Belanda pada saat itu. Dari buku inilah pemikiran masyarakat Belanda tentang perempuan pribumi berubah. Sehingga mereka menghormati dan mengharga perempuan. Karena karya dan perjuangan itulah, Kartini mendapat julukan Pahlawan Emansipasi Wanita.

Sayang sekali fasilitas museumnya sudah sedikit tidak terawat, dari mulai toilet yang kurang OK menurutku. Semoga kedepannya tetap dijaga 🙂

Setelah selesei melihat museum R.A Kartini, aku beranjak untuk kembali ke hotel, karena hari sudah mulai sore. Banyak sekali yang lari sore di sekitar alun-alun, atau hanya bersantai sambil menikmati jajanan.

Bagaimana teman-teman? Semoga bisa menambah ilmu mengenai sejarah emansipasi wanita ini yaa. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *