Gaya Hidup

Wisata Religi Di Semarang

Melanjutkan perjalanan wisata di Semarang, aku akan mengunjungi wisata yang sering digunakan untuk manasik Haji & Umroh, tapi tidak hanya untuk itu saja, sekarang bisa juga dijadikan tempat wisata religi dan pendidikan yaitu Firdaus Fatimah Zahra yang berlokasi di Jl. Muntal, Mangunsari, Gn. Pati, Kota Semarang. Sebelum kesana rencana aku akan sarapan pagi di Mie Kopyok “Pak Dhuwur” Pujasera Kyai Saleh.

Pagi hari pukul 07:30 cuaca di luar hotel hujan lumayan deras, biasanya di depan Hotel ada satu warung yang sudah buka, tapi pagi itu ndak buka. Akhirnya aku memutuskan untuk bersiap-siap, pukul 08:00 WIB berangkat menuju Mie Kopyok “Pak Dhuwur” Pujasera Kyai Saleh, karena ketika berseluncur di internet dari gambar makanannya saja sudah membuatku tergiur dan memutuskan untuk membelinya. Jarak dari hotel 3.7 KM, kalau jalan kaki bukan lumayan lagi itu, lumanyun kali yah.hehehehe. Untuk sampai ke sana, aku memesan Go-Jek dengan harga Rp8.000. Begini penampakan makanannya:

1 porsi Mie Kopyok dan teh manis khas banget Jawa, jadi berasa di Jawa banget deh. Aku baru pertama kali mencoba Mie Kopyok ini, isiannya ada lontong, tauge, mie khas jawa, ditaburi daun bawang, tahu gorengnya seperti tahu gejrot dan kerupuk gendar. Kuahnya seperti apa ya.. ndak bisa ku ungkapkan. Tapi lumayan lah, jadi tahu rasanya seperti apa. Setelah selesei makan, ternyata hujan tambah deras. Akhirnya aku menunggu sampai pukul 10:00 WIB, lumayan lama juga neduh di tempat makan, untung saja sepi, jadi santai saja.

Setelah sudah mulai reda, aku akan melanjutkan perjalanan ke Firdaus Fatimah Zahra yang jarak dari hotelku yaitu 14 KM. Sangat jauh dan membutuhkan waktu tempuh hampir satu jam menggunakan sepeda motor. Rencana aku akan menuju kesana menggunakan Go-Jek andalanqu dengan harga Rp.30.000, setelah beberapa kali order Go-Jek untuk dapet drivernya saja susah sekali, mungkin karena cuacanya yang hujan, para driver memilih melanjutkan tidur. Dua kali dapet driver tapi posisinya jauh dan minta di cancel, baik lah. Firasat sudah ndak enak kalau kaya gini, tapi aku mencoba memesannya satu kali lagi. Yup, alhamdulillah dapet.

Perjalanan kesana cukup mengerikan. Jalan yang menanjak sangat curam membuat saya was-was dan tidak tenang ditambah jalanan yang licin sehabis hujan, kemudian cukup sepi sekali, banyak sekali pohon-pohon besar. Rasanya saya mau balik saja ke hotel kalau kaya gini. Tapi semuanya sudah terlanjur. Saat perjalanan itu, Pak driver saya minta untuk jangan ngebut karena jalanan licin, tapi beliau jawab “Kalau pelan-pelan kapan sampainya neng”. Lah kalau sampainya kenapa-napa gimana? ku bicara dalam hati. Aku berdo’a saja dalam hati.

Ketika sampai di wisata Firdaus Fatimah Zahra saya kaget sekali, kok ya gerbangnya sangat amat besar. Gerbang SMK 1 Bekasi ndak ada apa-apanya. Sangatlah megah dengan luas totalsekitar 3 hektar.

Kemudian aku bertanya kepada Pak Satpam apakah hari ini dibuka untuk wisata umum atau tidak (untuk meyakinkan) meskipun aku sudah cari tahu di internet kemudian aku menanyakan dimana untuk membeli tiket masuknya. Lalu di arahkan untuk berjalan sedikit ke arah kiri dari gerbang. Setelah berjalan, terlihat papan informasi “Loket” baiklah aku langsung menuju tempat Loket untuk membeli tiket. Harga tiket masuknya Rp40.000, tenang saja mungkin memang terbilang cukup mahal, tapi ini setimpal kok sama wisata yang diberikan. Keren, dan keren.

Setelah membeli tiket, kamu akan diberikan Passfor yang benar-benar seperti buku passport, tapi bedanya didalam Passfor itu terdapat tempat-tempat yang ada atau disediakan disana dan penjelasan sedikit tentang tempat itu, seperti Hall Achmad Aidy, replika imigrasi Arab Saudi, tempat pengambilan koper, replika Bandara King Abdul Aziz Jeddah, toilet bandara, mushola, jam seperti di Masjidil Haram, replika pintu Masjidil Haram, replika Ka’bah, replika Hajar Aswad, replika Maqom Ibrahim, replika Hijr Ismail, replika Sa’i, replika Arafah, replika Jabal Rahmah, replika Jamarat Mina, replika Masjid Nabawi dan Raudhah.

Semuanya dibuat semirip mungkin. Meskipun aku belum pernah berkunjung langsung ke mekkah, minimal aku memahami gambaran ketika nanti memang dapat kesempatan kesana. InsyaAllah..

Aku seneng banget bisa kesini, melihat banyak saudara muslim melakukan manasek dan beberapa kali berkenalan oleh ibu-ibu gara-gara mau foto, lalu melihat gedung-gedung replika yang sangat indah rasanya saya ndak percaya bisa sampai disini. Semua ibu-ibu menanyakan hal yang sama,

“Dari rombongan mana?”

“Sendirian?”

“Disini ada saudara atau teman?”

“Disini kuliah atau liburan?”

Kebanyakan setelah ku jawab, “Dari Bekasi, bu” mereka semua kaget. “Mau ngapain?” Mungkin mereka heran, kok perempuan jalan-jalan sendirian.

Setelah dari wisata itu, aku melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Jawa Tengah, karena akan terasa kurang jika ke Semarang tidak ke Masjid Agung Jawa Tengah. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi kesana menggunakan Go-Jek, awalnya saya sempat khawatir, karena lokasi ini sangat sepi dan lumayan jauh, takutnya ndak ada Go-Jek yang beroperasi disini.

Setelah menanyakan ke pak satpam dan pak polisi disana, aku disarankan untuk mencoba order via Go-Jek dulu saja, karena rencanaku kalau ndak ada Go-Jek aku akan berjalan beberapa KM untuk sampai di Shelter UNNES, dan melanjutkan perjalanan menggunakan Trans Semarang. Tapi ketika mencoba mengorder Go-Jek, Alhamdulillah dapet lumayan cepat dan ndak perlu nunggu lama. Dari Firdaus Fatimah Zahra aku akan pergi ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dengan waktu tempuh 17KM. Sesampainya disana lagi-lagi aku dibuat kaget, karena tempat ibadah ini sangatlah luas. MasyaAllah… Sebelum dapat melihat dengan jelas masjidnya, kita harus berjalan sedikit dari depan ujung jalan.

Cuaca saat itu sangatlah mendukung, tak menyesal aku ke Semarang kalau cuacanya seperti ini.heehe. Masjid ini dibangun pada tahun 2002, kebetulan aku baru umur dua tahun tuh, hehe dan selesei pembangunan tahun 2006 lumayan lama juga ya. Lokasi ini luasnya 10 hektar, lebih luas 3 kali lipat dari Firdaus Fatimah Zahra. Teras yang luas itu dikelilingi tiang-tiang yang coraknya modern, membuatnya tampak rancak. Disini bukan hanya terdapat masjid saja, tetapi ada Convention Hall, Menara MAJT, Perpustakaan, Kantor Badan Pengelolaan dan Penginapan, rumah Kyai.

Kebetulan kemarin hari Minggu, suasana disana lumayan ramai. Dan banyak sekali bus-bus besar diarea masjid. Setelah menginjakan kaki di teras yang luas itu terlihat ada genangan airnya karena habis hujan. Aku pelahan-lahan mendekati masjid tersebut, karena ngerasa nggak percaya aja, aku bisa sampai disini.

Kemudian sekalian untuk sholat Ashar disini, masuk ke dalam masjid yang nyaman, bersih, mewah dan pastinya tenang sekali. Di dalam masjid juga ada Mushaf Akbar dengan ukuran 145 cm x 95 cm, yang ditulis oleh Drs. Hayat dari Universitas Sains Al-Quar’an, Wonosobo, Jateng. Lama penulisannya sekitar 2 tahun 3 bulan lho teman-teman. Ohiya pasti penasaran dong payung setinggi 100 meter ini kapan di buka? katanya sih akan di buka setiap Shalat Jum’at atau acara-acara besar seperti Maulid Nabi.

Kemudian disebelah kiri kita akan di buat terkesan karena terdapat Menara MAJT yang tingginya 99 meter dengan 19 lantai. Lantai 1 untuk lobby dan pembelian tiket, ohiya untuk harga tiket Rp7.500/orang. Lantai 2&3 Museum Perkembangan Islam. Lantai 18 Resto Putar. Lantai 19 Menara Pandang. Kemarin aku hanya ke Menara Pandang saja, karena kakiku sudah tak kuat lagi rasanya. Akhirnya perjalananku ku akhiri disini hari Minggu kemarin. Ku mengelilingi Menara Pandang disetiap sudut, MasyaAllah, pemandangan Kota Semarang yang luar biasa, angin yang sangat kencang karena diatas sini tidak seperti ruang tertutup, mungkin kalau lama-lama disana aku bisa masuk angin. Berbeda sama Monas di Jakarta yang tingginya hanya 14 meter, meskipun aku belum pernah menaiki ke atas Monas, karena selalu penuh ketika mau antre.

Disana juga disediakan teropong dengan membayar Rp1.000 menggunakan uang logam seribuan. Sudah sampai diatas ini, akan ada yang kurang jika tidak mencobanya. Kemudian aku coba lah untuk menggunakan teropong. Yeaay aku bisa melihat laut dan kapal-kapal di ujung sana.

Wisata religi ini membuat aku sadar, bahwa aku ini sangatlah kecil di muka bumi ini. Lantas apa yang aku bangga-banggakan dan sombongkan perihal dunia & akhirat?

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat sombong dan membanggakan diri dalam hal harta dan dunia. Karuniakanlah pada kami sifat qona’ah, selalu merasa berkecukupan.

Karena hari sudah mulai sore, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke hotel kemudian melanjutkan menulis artikel.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *