Gaya Hidup

Berada di Antara Awan

Hari ini adalah hari sabtu. Hari yang tidak sama seperti biasanya, dalam rangka memenuhi undian jalan-jalan yang di berikan oleh kantor Excellent secara cuma-cuma untuk memanjakan karyawannya dengan refreshing dari pekerjaan rutinitas, rencana yang sudah ku buat dari jauh-jauh hari adalah perjalanan ke beberapa daerah yaitu Semarang-Jepara-Yogyakarta selama satu minggu dari mulai tanggal 23 Maret 2019 sampai 30 Maret 2019.

Hari ini merupakan hari yang ditunggu-tunggu dan selalu di bayang-bayangkan sebelum hari ini tiba. Dimana aku akan mencoba hal baru, hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Bukan aku tak takut, khawatir dan takut pasti ada, awal pertama kali aku memulai berpamitan kepada kedua orangtuaku pikiranku sudah tak karuan. Tapi, aku meyakinkan diriku bahwa aku pasti bisa melakukan hal ini.

Perjalanan ku akhirnya dimulai…

Tujuan pertamaku adalah Kota Semarang. Aku sudah merencanakan untuk pergi ke Semarang menggunakan transportasi udara yaitu Pesawat. Kebetulan aku belum pernah pergi menggunakan pesawat, menurutku ini adalah moment yang pas untuk ku coba.

Karena niat yang amat besar, sesudah mendapatkan undian itu, aku mulai untuk membuat rencana perjalanan, setelah membuat rencana perjalanan selengkap mungkin, sekitar pertengahan Bulan Februari aku langsung check tiket pesawat di website resminya Citilink untuk keberangkatan di akhir Bulan Maret. Sebulan sebelum keberangkatan harganya masih murah sekali, setelah saya check di awal Maret, harganya sudah dua kali lipat. Beruntunglah saya yang sudah pesan sebulan sebelum keberangkatan. Buat teman-teman yang mau tahu Cara Pesan Tiket Pesawat Citilink Online dengan Mudah silakan klik link tersebut.

Pagi ini aku akan pergi ke Bandara Halim Perdana Kusuma, karena memang tiket yang ku pesan adalah di bandara tersebut. Dari rumah aku berangkat sengaja pagi sekali yaitu pukul 05:30 menuju Terminal Damri Kayu Ringin diantar kedua orangtua saya tercinta, sebelumnya saya juga belum pernah naik Damri. Saya juga belum tahu mekanisme pembayaran, dll nya seperti apa. Akhirnya sebelum hari sabtu tiba, aku survey langsung ke Terminal itu untuk menanyakan terkait transportasi Damri apakah ada yang tujuan ke Bandara Halim Perdana Kusuma atau tidak. Sebelumnya teman saya juga sudah memberi tahu kalau ada, tapi mobil elf. Karena aku belum menanyakan detail dengan temanku yang sedang di asrama, akhirnya aku memutuskan untuk survey langsung.

Terminal Damri Kayu Ringin memang melayani dari Terminal Kayu Ringin Bekasi tujuan Halim P.K mulai pukul 04.00 WIB s/d Pukul 18.00 WIB. Sedangkan, dari Bandara Halim P.K menuju Terminal Kayu Ringin Bekasi mulai pukul 07.00 WIB s/d 22.00 WIB. Tarif yang harus di bayar Rp30.000. Tapi sepertinya untuk tujuan ke Halim P.K sepi, kebanyakan yang naik Damri yang menuju Bandara Soetta. Aku juga bingung, kenapa tadi di mobil penumpangnya hanya aku? untung saja nggak lama hanya 30 menit perjalanan, supir nya juga ramah dan nggak ugal-ugalan. Aku pikir karena pak supir baru bangun tidur, trus khawatir dia masih ngantuk, kan nggak lucu kalau ada apa-apa, aku liatin aja mata nya dari spion, jaga-jaga kalau memang ngantuk akan saya ajak ngobrol. Tapi tidak seperti kekhawatiranku kok, supir nya professional meskipun penumpangnya hanya aku saja.

Sesampainya di Bandara Halim P.K sekitar pukul 08.00 WIB, saya bingung.. Lho, saya di turunin oleh Damrinya pas banget di pintu keberangkatan dan saya belum melihat ruang tunggu. Karena suasana ramai. Akhirnya saya tidak langsung memasuki pintu keberangkatan, jalan-jalan dulu, beradaptasi dan mencari makanan.

Pertama kali menaiki Pesawat, banyak kekhawatiran yang aku rasakan. Dari mulai proses keamanan di Bandara yang ketat, meskipun aku tipe orang yang manut-manut, bagaimana rasanya di dalam pesawat, bagaiman check in, dan segala prosedurnya, bagaimana aku bisa sampai di hotel. Sebelum hari ini tiba, aku sudah berseluncur di internet bagaimana prosedur menaiki pesawat. Hehe

Sebelum memasuki pintu keberangkatan, aku mengganjal perut dengan membeli makanan di KFC ( ada di paling ujung ). Ketika ingin masuk ke pintu keberangkatan, ternyata ada mesin untuk mandiri check-in. Ini sangat memudahkan sekali karena tidak perlu antre untuk check-in manual. Aku hanya perlu memasukan nomor konfirmasi yang ada di e-ticket yang diberikan saat kita memesan tiket, kemudian print boarding pass. Setelah check-in mandiri, kemudian aku memasuki pintu keberangkatan dan semua barang yang kita bawa di check melalui mesin keamanan X-Ray. Lalu, Boarding pass dan Kartu Identitas kita di check oleh petugas. Setelah lolos, akan masuk ke tahap pengecekan kedua menggunakan keamanan X-Ray lagi, ini lebih detail, karena untuk yang memakai ikat pinggang harus di lepaskan, katanya sih kalau punya koin juga harus di keluarkan.

Setelah itu aku menanyakan ke petugas pintu/gate nomor 6 dimana, dan di arahkan oleh petugasnya. Jangan pernah takut nggak tahu atau nyasar, karena semuanya ada petunjuknya di papan informasi. Jangan terburu-buru, santai saja ini sih tips nya..

Setelah menunggu di pintu nomor 6, pihak maskapai akan memberitahu jika pesawat sudah ready untuk di naiki melalui pengeras suara yang sangat jelas, kemudian menunjukan Boarding pass dan Kartu Identitas. Kami dipersilakan untuk menuju pesawat. Karena baru pertama kali, aku inisiatif menanyakan tempat duduk ku di sebelah mana oleh Pramugara, kemudian di tunjukkan. Lalu, masukkan tas ke dalam kabin, kemudian ikuti peraturan yang diberitahu atau memahami informasi darurat yang di peragakan oleh Pramugari yang rancak itu.

Kemudian ketika proses lepas landas pesawat rasanya seperti…naik Hysteria Dufan. Habis di naikkan, kemudian di jatuhkan.. Atau kalau pernah mimpi jatuh dari tebing, begitu rasanya..

Lalu kenapa ketika naik pesawat telinga kita terasa “budek” atau sakit. Ternyata, alasannya adalah karena tekanan udara diatas lebih tinggi. Semakin naik posisi kita di udara, tekanan udara sekitar akan semakin rendah. Perubahan ketinggian dan tekanan udara yang drastis dalam waktu singkat membuat telinga kita tidak sempat beradaptasi untuk menyamakan kedudukan.

Setelah sampai di Bandara tujuan yaitu Jenderal Ahmad Yani, jangan lupa untuk mengambil tas yang di simpan di kabin atau yang ada di bagasi. Karena saya hanya menaruhnya di kabin, jadi ndak perlu ambil ke bagasi.

List pencapaian yang saya targetkan di tahun 2019 ini akhirnya satu persatu terpenuhi, salah satunya naik pesawat diumur belasan. Dan keinginan untuk berada di antara awan, melihat awan dekat akhirnya tercapai. Untuk memenuhi hal itu ada dua pilihan, naik transportasi udara dalam hal ini pesawat atau berada di puncak gunung. Tapi kali ini aku memenuhinya dengan pilihan pertama.

Happy Weekend! Sampai jumpa di cerita selanjutnya 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *