Gaya Hidup

Dibalik Hari Selasa

Beberapa hari lalu saya mendapati sesuatu hal yang kurang baik. Tepatnya pada hari Selasa. Pada sore itu. Semua Team merencanakan untuk menjenguk kedua orang tua atasan kami. Karena sedang sakit.

Sore itu saya dibonceng oleh rekan kerja saya, sekaligus membantu membawa Synology untuk di taruh ke rumah atasan saya. Motor yang saya bawa saya titipkan di kantor dan ada satu rekan kerja saya mas Fajar yang juga menitipkan motornya di kantor.

Dari Bekasi-Tambun, meskipun di boncengin, synologi terasa berat juga saya pegangin sepanjang jalan. Seperti gendong anak—

Singkat cerita saya kembali ke kantor sekitar pukul 19:00, bersama mas Fajar dan Raihan.

Setelah kantor di tutup, kunci markas di bawa oleh Raihan dan langsung pergi ke kampus.

Yang tersisa hanya tinggal saya dan mas Fajar,
saya mencoba untuk menyalakan mesin motor, tapi——

Motor itu tidak seperti biasanya, mesin motornya nggak nyala, waduh..

Untung sekali mas Fajar belum duluan pulang, akhirnya mas Fajar bantu untuk menyalakan mesin motor…

Tapi hasilnya nihil—
Karena kayaknya memang tidak ada harapan untuk di sela.

Alhamdulillah masih ada orang yang dikenal untuk membantu, karena daerah ruko yang gelap dan sepi membuat saya merasa sedikit khawatir..
Apalagi ada laki-laki yang nongkrong di depan kantor..

Setelah saya menelpon bapak, ternyata kebetulan abangku ada di rumah. Biasanya abangku kerumah hari sabtu/minggu, karena abangku kost di daerah cibitung. Akhirnya abangku menyusul saya di Kantor. Ternyata informasi dari ibuku, abangku pulang ke rumah karena sedang sakit dan baru saja berobat.

Mas Fajar menemani saya sampai abangku tiba di kantor.

Abangku tiba sendirian dan mengendarai motor—

Sudah di sela, sudah di bongkar-bongkar, tapi hasilnya pun nihil—

Sampai hampir jam 8, akhirnya memutuskan untuk “Stut” dari Kantor ke rumah. Bayangin aja lhooo stut sejauh itu..
Selama diperjalanan, saya dan abangku saling koordinasi untuk sama-sama menyeimbangkan supaya perjalanan lancar. Meskipun hal yang ditakutkan adalah Macet. Kalau macet bagaimana stut nya?

Alhamdulillah Macet pun dapat di lewati. Selama perjalanan kurang lebih 30 menit, tak jarang aku dimarahi kalau mengarahkan stang motornya tidak benar. Padahal saya udah benar:’D

Momen itu juga membuat saya menjadi setidaknya lebih dekat dengan abangku. Selama ini, kalo ketemu ya berantem. Tapi pada momen itu, saya benar-benar merasa punya kaka yang melindungi. Jiaaaaah—

Meskipun jarang banget dan baru sekarang saja…

Alhamdulillah malam itu tiba di rumah pukul 21.00 dengan slamet.

Dibalik kejadian di hari Selasa kemarin, ada hikmah tersendiri yang saya rasakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *