Gaya Hidup

Dilanda Panik

Beberapa hari yang lalu, saya berniat ke Bazar Bangunan di Bekasi timur, dekat dengan Stasiun Bekasi. Rencana kesana setelah pulang kerja.

Waktu sudah menunjukan pukul 16:30 WIB, artinya sudah tiba waktu pulang. Kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke Bazar Bangunan sesuai rencana awal, tapi saya bingung mau lewat Jalan Proyek atau lewat Stasiun Bekasi. Kalau bisa sih gamau yang ada perlintasan kereta api nya. hehe. Tapi yang deket dari tempat kerja ku ya hanya kedua itu, akhirnya memutuskan lewat Stasiun Bekasi.

Sebelumnya, saya kalau lewat perlintasan Kereta api di Stasiun Bekasi jalanan selalu longgar dan sepi. Nggak rame.

Terkejut saya nggak kepikiran bakalan padet banget. Macet. Jalanan juga licin, karena gerimis. Saya tetap lanjutkan perjalanan itu. Ketika saya lewati perlintasan itu, tiba-tiba alarm tanda akan ada kereta melintas itu berbunyi, palang perlintasan kereta api pun perlahan bergerak untuk menutup agar kendaraan tidak melintasi jalan. Posisi saya sedang ada di tengah-tengah rell, bagaimana tidak panik? kacau. Istigfar terus. Sambil berusaha buru-buru melewatinya. Seperti di kejar-kejar orang gila. Jalanan saat itu licin, jadi masih tetep hati-hati saat panik. Karena takut sesuatu akan terjadi lebih rumit dan runyam.

Alhamdulillah waktu berangkat bisa lolos dan selamet.

Waktu pulang dari Bazar Bangunan harus tetap melewati palang itu. Akhirnya mau gamau, tetap lewat palang itu.

Kali kedua dilanda panik, alarm sudah berbunyi, palang sudah ingin tertutup. Tapi keadaan sangat macet, Polisi sudah mengatur dibantu oleh Dishub, Angkutan umum yang membuat jalan riweh, karena mangkal di depan Stasiun Bekasi. Padahal dulu dilarang lho ngetem/mangkal disitu. Ntah sekarang bagaimana bisa peraturan berubah lagi?

Hal ini membuat kendaraan menjadi macet, bagaimana saya tidak panik? Saya masih ada di pinggir rell. Bagaimana bisa? Saya panik…..!

Tapi, ketika saya panik. Saya sempet clingak-clinguk, di belakang saya itu, di tengah-tengah rell itu, tenang-tenang saja. Padahal mereka ada di posisi tengah-tengah rell. Alarm sudah berbunyi, palang pintu akan di tutup.

Saya masih bingung, kenapa mereka nggak panik? Atau karena mereka sudah biasa, jadi sudah tahu pola nya. Atau memang meskipun palang akan di tutup, mungkin tetap di beri jeda yang lumayan lama. Saya nggak habis pikir, kalau memang sangat riweh, ditambah polisi mengatur banyak sifat manusia yang berkendara seenak dewek, dan yang lebih jeungkelin lagi, orang-orang di tengah-tengah perlintasan mau cepat-cepat melewati itu, tapi kendaraan Angkutan Umum malah leye-leye. Lah ibaratnya, gue lagi di ujung tanduk, lo malah leye-leye. Minta di tatar:D

Dari dulu, bukannya saya takut untuk melewati perlintasan kereta api, tapi saya menghindari hal-hal yang tidak perlu terjadi. Kalau masih bisa lewat alternatif lain, kenapa enggak? Lebih aman, nyaman.

Kata ustad Hanan, kalau di jalan bertemu sama manusia yang jeungkelin, sabar. Itu adalah ujian kesabaran kamu. Melatih kesabaran kamu. Kalau orang tidak ada yang jeungkelin, kita nggak bisa belajar kesabaran dong. hehe.

sumber gambar: disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *