Gaya Hidup

Cita-Cita Jadi Guru

Dulu ketika masih SD, punya cita-cita jadi guru. Karena sepulang sekolah suka main-main sekolah-sekolahan. Ini adalah mainan yang paling mengedukasi ketika kecil, jika saya yang menjadi guru, teman saya menjadi murid, jika saya menjadi murid, teman saya menjadi guru. Setiap hari seperti itu. Saking ingin menjadi gurunya, semua teman-teman patungan untuk membeli spidol papan tulis dan papan tulisnya pakai triplek putih yang licin punya saya. Saking niatnya.

Kadang kalau memang tidak ada teman-teman, saya main sendiri, muridnya nggak ada, ibaratnya orang gila, jadi guru dan jadi murid. Hehe. Sampai akhirnya ada yang memuji saya,

“Febri, kamu pantes ya kayaknya jadi guru.” Ujar temanku yang lebih tua dariku.

Febri adalah nama panggilanku di SD, SMP dan di rumah. Di SMK saya dipanggil Alifa. Kalau dipanggil “Febri” saya jadi seperti bergaya tomboy rasanya, karena memang selama SD, SMP memang aslinya tomboy. Semenjak SMK di panggil “Alifa” saya sudah mulai menjadi wanita sesungguhnya 😀 Feminim. Balik lagi ke cerita awal,

Waktu saya masih SMK juga ada penghasilan dari luar, artinya nggak dari orang tua. Tetangga saya minta saya untuk ajarin anaknya. Lumayan juga, ada tambahan pemasukan untuk di tabung. hehe.

Rencana dalam waktu dekat pengen banget bisa ngajarin anak-anak di kampung sini belajar, secara sukarela. Tapi belum ada geraknya nih hehe.

Lama-lama saya tertarik juga menjadi guru, tapi bapak saya bilang, kenapa jadi guru? guru gajinya kecil. Sekarang saya nggak mempermasalahkan itu. Toh rejeki bakalan ada aja gimana pun dan dari pintu manapun.

Kenapa sih saya minat jadi guru? Meskipun sekarang masih ambang mau ke arah mana. Tapi tujuan saya kedepan adalah jika saya sudah bersuami. Manamungkin suami akan mengizinkan kerja di luar sana. Meskipun masih mungkin-mungkin saja, tapi kalau suami bilang gitu? apa mungkin bisa menolak? Ya pada intinya mau mengambil sesuatu yang memikirkan kedepannya nanti.

Kalaupun tidak bekerja di luar, saya bisa buka les di rumah. Kalaupun tidak membuka les, saya bisa mengajarkan anak saya nanti. Bisa pula berbisnis di rumah, jualan di rumah atau membuat kerajinan di rumah untuk dijadikan bisnis. Semua itu mungkin-mungkin saja.

Intinya, apapun nanti kedepannya, jadi siapa saya kedepannya, berprofesi apa dan bergelar apa? Saya hanya ingin ilmu bisa terpakai untuk mengurus dan mendidik anak.

Pada hakikatnya, ilmu yang sudah di dapat dari S1, S2, dll bukan untuk menjadi karyawati, tetapi untuk mendidik anak.

Lalu mau jadi Guru Kah? Tunggu saja nanti. Arah mana yang ku ambil, dan arah mana yang Allah sudah rencanakan untukku.

Sumber gambar: Disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *