Gaya Hidup

Ni’mat Sabar

Aku belajar ni’mat kesabaran dari temanku. Yang sering aku panggil “Mas Bro” biar kelihatan akrab saja. Waktu bertemu saat itu, ia cerita kepadaku.

“Lif, saat kegagalan kedinasan STIP waktu itu. Rasanya nggak karuan. Segala pengorbanan sudah maksimal, dari mulai mental, waktu berbulan-bulan untuk mengikuti tahapan tes nya, uang, dan tekad. Setelah tahap terakhir, di pengumuman nggak ada namaku. Rasanya seperti, tertiban batu besar” Ujar mas bro

“Aku paham betul apa yang kamu rasain bro, aku bahkan mengira kamu bakalan lolos. Harapku dan harapmu sama.” Jawab aku

“Tapi setelah itu, aku coba untuk ikhlas. Meskipun tidak mudah rasanya. Aku tetap sabar menerima semuanya, Lif. Aku betul-betul minta sama Allah, semoga Allah kasih yang terbaik untukku” Ujar Mas bro

“Alhamdulillah, aku paham kok menerima semua itu emang nggak mudah. Aku paham, karena aku selalu mengikuti perkembangan saat kamu mengikuti tahap tes dari awal sampai akhir.” Jawab aku

“Allah maha baik Lif. Allah benar-benar mengabulkan do’aku hari itu. Dengan menunggu beberapa bulan sambil menjalani kuliah di Perguruan Tinggi Swasta, Aku dapet jalur undangan di ATKP Medan, dan sekarang aku lolos tahap undangan itu. Aku nangis Lif. Nggak pernah menyangka hal itu terjadi. Allah benar-benar kasih hadiah yang nggak pernah aku duga. Aku pantas menjadi taruna Lif. Allah kasih kesempatan itu.” Ujar Mas bro

Aku pun rasanya terharu, benar-benar kuasa Allah. Allah maha baik. Yang menurut baik bagi kita, bisa jadi tidak bagi Allah. Begitupun sebaliknya. yaAllah. yaRabb. Terima kasih, sudah mengirimkan teman seperti dia. Yang lagi-lagi membuat sadar. Menegur diri ini. Bahwa ni’mat atau buah kesabaran itu memang ni’mat sekali rasanya.

Semoga Allah selalu istiqomahkan hatimu kawan, dan dilancarkan segala urusanmu di ATKP Medan. Aamiin yaRabbal’alamin..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *