Gaya Hidup

Lima Ratus Perak Yang Berharga

sumber: Liputan 6.com


Dari dulu sampai sekarang, selalu mikir. Mau usaha/dagang apa ya, untuk nambahin pemasukan.

Sampai akhirnya, dulu ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan, saya cerita kalau saya ingin berjualan ke teman saya namanya Tyas dan kebetulan ada ibunya juga,


Dan Bu Tyas nyeletuk, “Jualan kue ibu mau ngga? kalau mau nanti ibu buatin, kamu tinggal bawa saja”


Saya jawab, “Tapi kalau anak SMK nggak begitu pengen kalo kue gtu bu, gimana kalau Risoles?”


dan Ibu Tyas setuju.


Alhamdulillah, tibalah di hari pertamaku jualan.


Dulu ketika SMK, masuk itu jam setengah 7 pagi.

Sudah harus siap jam setengah 6 pagi. Sudah harus berangkat. Dulu, waktu awal sekolah saya datang setengah 6 pagi, lama-lama naik kelas 11-12 di mepet-mepetin berangkatnya:D


Tapi, ketika jualan risoles saya nggak bisa datang mepet setengah 7:D


Karena, pagi-pagi saya sudah harus ke rumah bu Tyas ambil risoles.

Alhamdulillah saya sekolah mengendarai motor, jadi cukup di gantungin di motor saja risoles yang jumlahnya 20-25 biji.


Pertama kali aku jualan di kelas. Di kelas saja, nggak di seluruh kelas yang ada di sekolah. Karena mungkin kalau sendiri saya bisa kerepotan, di kelas sendiri saja saya repot.


Saya cuma taruh risoles di meja saya,

saya buka saja tempat risolnya, supaya ada yang ngelirik.

Saya nggak berani nawarin, mungkin karena rasa malu saat itu. Dan saya baru menyadari sekarang,

jualan mah jualan aja kalau bermanfaat buat orang lain kenapa enggak?


Beberapa orang mengerubungi jualanku,

menanyakan harganya, menanyakan isi dalam risolesnya.


Dan satu orang mencoba membeli risolesku, dia ketagihan beli satu lagi.


Akhirnya teman-temanku yang lain penasaran dengan rasanya.

Dan sama sekali tak terbayang, kalau jualanku habis ludes tanpa sisa.

Bahkan ada yang bilang “besok bawa lagi yaa”.


Ternyata, dugaanku salah. Perasaan malu ku salah. Pikiran ku salah saat mendugga tidak ada yang mau beli.


Aku belajar mencari peluang,

Jualan risoles di kelas adalah peluang yang bagus.

Disaat hujan, teman-teman malas ke kantin.

Disaat belajar di lantai paling atas, teman-teman malas ke kantin.

Disaat lapar, dikelas masih bisa mengganjal perut.


Tapi, setelah kurang lebih satu tahun ku jualan.

Ada banyak pelajaran yang ku ambil.


Dari celaan orang lain tentang makanan yang ku jual,

Disaat,

risoles yang ku jual tersisa,

Hatiku berat sekali untuk pulang dan memberi tahu kalau risolesnya sisa.

Rasa bersalah muncul, tapi bu Tyas meyakiniku.

“Tidak apa-apa, namanya juga jualan.”


Disaat itu juga aku menghargai lima ratus perak. Upah yang kudapat selalu ku tabung,

meskipun hasilnya tak banyak.

Tapi, aku merasakan rasanya mendapatkan upah dari usaha ku sendiri.

Dari waktu yang ku sisihkan, dan niat yang ku tanamkan di diriku.


Ku tabung uang itu, untuk diniatkan ikut pendaftaran kuliah tahun depan. Waktu itu ingin ikut pendaftaran tahun 2018. Supaya bisa ikut ujian,

sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Dan uang pun terkumpul,

bisa untuk tambahan ongkos ujian dan biaya pendaftaran.

Meskipun masa-masa itu sudah ku lewati.

Dan hasilnya tidak sesuai harapku, tapi ada pelajaran yang ku ambil. Untuk tidak mudah menyerah, dan belajar berkomitmen dengan diri sendiri dalam meraih apa-apa yang diinginkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *